Tanpa Infrastruktur, Dana Desa Kurang Efektif

Pernyataan menarik dilontarkan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo. Dia mengatakan dana desa kurang efektif jika diberikan pada suatu wilayah yang tidak ada dukungan infrastruktur utama.

Indonesiainside.id, Jakarta: Menurut Eko Putro Sandjojo, dana desa menjadi kurang efektif jika di suatu daerah infrastruktur utamanya tidak ada. “Misalnya jalan tidak ada, kita harus pakai pesawat. Dana Rp1 miliar jadi tidak efektif karena apa-apa mahal,” ujar Eko saat rilis hasil pendataan potensi desa (podes) 2018 di Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta, Senin (10/12).

Menurut Eko, dana desa hanya bagian dari program pemerintah yang harus didukung oleh sinergi program antar kementerian atau lembaga lainnya, terutama terkait proyek pembangunan infastruktur seperti jalan dan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan harga terjangkau.

“Kan ada program Trans Papua dan BBM Satu Harga. Jadi kalau BBM mahal, dana desa berapa pun juga tidak efektif,” kata Eko.

Alokasi dana desa meningkat dari 2015 hingga 2018. Pada 2015, alokasi dana desa mencapai Rp20,67 triliun, lalu meningkat pada 2016 menjadi Rp46,98 triliun, kemudian menjadi Rp60 triliun untuk 2017 dan 2018.

Untuk penyerapannya sendiri juga semakin meningkat setiap tahunnya. Pada 2015 penyaluran dana desa mencapai 82,72 persen, lalu meningkat menjadi 97,65 persen pada 2016, dan mencapai 98,54 persen pada 2017. Sebelumnya tiap desa hanya menerima sekitar Rp280 juta per desa, saat ini tiap desa menerima sekitar 800 juta per desa.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here