Benarkah Kemiskinan dan Ketimpangan Turun?

Foto : Ekonomi - Inilah.com

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini lebih didominasi oleh pertumbuhan ekonomi sektor non tradable (jasa dan perdagangan).

Indonesiainside.id, Jakarta — Pemerintah mengklaim kemiskinan dan ketimpangan berangsur turun dan mengalami perbaikian. Ekonom INDEF Rusli Abdullah tak menampik bahwa kemiskinan berangsur turun, bahkan mencapai single digit. Pada Maret 2018, angka kemiskinan di Indonesia mencapai level 9,82% (terendah sepanjang sejarar).

“Namun demikian, justru capaian tersebut adalah permulaan untuk sebuah tantangan terberat menurunkan angka kemiskinan berupa perlambatan penurunan angka kemiskinan atau adanya the last mile problem,” ujar Rusli kepada Indonesiainside.id, saat dikonfirmasi, Selasa (11/12).

Ia menjelaskan, the last mile problem adalah penurunan kemiskinan akan melambat jika tingkat kemiskinan sudah relatif rendah. Dan sebaliknya, ketika tingka kemiskinan tinggi, relatif sangat mudah menguranginya.

“Kenapa susah menurunkan angka kemiskinan di level single digit? Karena pada level tersebut, penduduk yang masuk kategori miskin adalah mereka yang tidak produktif karena sakit, cacat (tuna daksa), low skill, mayoritas tidak mengenyam pendidikan, termarginalkan secara sosial, politik, dan ekonomi,” Rusli memaparkan.

Karena itu, kata dia, Pemerintah dapat merubah kebijakan penanganan kemiskinan yang berorientasi pada peningkatan kapasitas masyarakat yang berada pada kelompok tersebut melalui pembangunan inklusif.

Mengenai angka pengangguran ia juga tak menampik pengangguran terus mengalamai penurunan, tapi melambat dibandingkan dengan 10 tahun lalu. Menurutnya, hal ini disebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang lebih didominasi oleh pertumbuhan ekonomi sektor non tradable (jasa dan perdagangan). “Sedangkan pertumbuhan sektor pertanian dan industri tidak setinggi 10 tahun lalu,” katanya.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here