Ketahanan Pangan Rapuh, RI Masih Impor Singkong

Produksi komoditas pangan belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Lihat saja, singkong yang menjadi bahan baku makanan pokok di sejumlah daerah masih diimpor. Hal ini menandakan ketahanan pangan negeri ini masih cenderung rapuh.

Indonesiainside.id, Jakarta: Jumlah impor singkong yang masuk ke Indonesia berfluktuasi dalam tiga tahun terakhir. Menurut Ketua Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Indonesia, Franciscus Welirang, impor singkong pada 2015 tercatat 840 ribu ton. Kemudian meningkat pada 2016 menjadi 940 ribu ton dan 2017 turun menjadi 740 ribu ton.

“Untuk 2018 ini sudah turun, sampai September 230 ribu ton. Kemungkinan sampai akhir tahun bisa 400 atau 500 ribu ton. Tapi, artinya Indonesia masih impor,” katanya dalam FGD Tapioka dan Mocaf di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (12/12).

Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan impor singkong yaitu besarnya kebutuhan pakan ternak maupun untuk plastik organik, kertas, tekstil, dan berbagai keperluan lain.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Suharyo Husen bahkan mengungkapkan, ada impor produk olahan singkong masuk ke RI. Misalnya saja, tapioka dari Vietnam dan Thailand karena harganya lebih bersaing dibanding olahan pabrik dalam negeri.

Menurut Suharyo, hal ini juga yang menjadi penyebab industri tapioka di RI berhenti beroperasi. “Kita masih net importir tapioka, karena harga tapioka impor lebih murah,” katanya.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here