Human Capital, Strategi Hadapi Revolusi Industri 4.0

Dalam kesempatan sama, Country HR Director-GE Indonesia Rudi Afandy mengatakan, teknologi berubah secara exponential, namun sayangnya organisasi masih tumbuh secara logaritma. Akibatnya terjadi gap di organisasi, 50% berada di level senior manager yang rata rata adalah gen X, dan 17 % gap muncul di level junior manager.

“Pada era VUCA ini, talent yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki kompetensi Agile, Assertive, Persistance, Collaborative dan Continous to learn, unlearn and relearn. Namun sayangnya masih sedikit ditemukan talent seperti itu,” ujarnya.

Menurut dia, bisnis yang berkembang pesat tidak disertai dengan kesiapan people dan organisasinya. Menjadi tantangan besar untuk para HCD dalam waktu singkat menemukan dan menciptakan karyawan yang sesuai dengan perubahan zaman, selain organisasi diharapkan segera beradaptasi,” ujarnya.

“Tak hanya itu, bagian HCD pun sudah mulai memikirkan platform terbaik untuk mengembangkan para karyawan dan talent yang dimiliki. Melihat kebutuhan dan perkembangan yang ada, maka perusahaan perlu mengubah pendekatan dalam membangun hubungan dengan karyawan yang mereka miliki,” katanya.

Senada, People Operations Business Partner GFG ID–Kudo Kartika Akbaria mengatakan, HR bukan lagi sekedar personalia, pengembangan, support atau bahkan partner saja. HR saat ini diharapkan bisa menjadi business player yang menentukan pertumbuhan dan arah bisnis,

“Sebagai HR, peran yang kami jalankan saat ini lebih banyak berdiskusi dan memastikan para business leader terlibat dalam agenda HR, 30 persen melakukan pengembangan tim dan 20 persen melakukan proses HR Improvement,” katanya.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here