Batik Saraswati, Lahir Dari Seorang Apoteker

Produk batik Saraswati berupa kain panjang, sarimbit, selendang, hingga aneka busaha untuk perempuan selalu ditunggu konsumen menengah ke atas.

Indonesiainside.id, Surabaya –Prihatin kota sebesar Surabaya tidak memiliki cenderamata khas, Putu Sulistiani Prabowo memutar otak. Lewat corat-coret, beberapa lama kemudian lahirlah motif batik Suro dan Boyo. Setelah itu proses kreatifnya tak bisa dibendung. Padahal, perempuan berdarah Bali ini sebelumnya berprofesi sebagai apoteker.

Putu, demikian perempuan kelahiran Singaraja, 5 Agustus 1957 ini biasa disapa, tidak mempunyai darah pembatik. Tapi keinginannya mendalami seni, terutama lukis, sangat kuat. Saat masih SMP dia pernah belajar pada I Wayan Pengsong, pelukis asal Bali yang menganut gaya impresionis dekoratif.

Kertertarikan Putu pada batik berawal dari seringnya melihat-lihat koleksi batik sang ibu. Dari kesengsem, lama-lama timbul rasa penasaran. “Kok orang desa bisa bikin karya seindah ini? Gimana ya caranya, masa kita orang kota tidak bisa,” tanyanya dalam hati. Putu lantas belajar ke Balai Besar Penelitian Batik Jogjakarta selama dua minggu. Tak cukup sampai di situ, dia sempat magang ke pusat batik tulis Sari Kenongo, Sidoarjo.

Guru seni di SMKN 12 Surabaya juga digaetnya untuk memberikan les privat membatik. Merasa kemampuannya cukup, tahun 2004 dia mengawali usaha batiknya. “Sebelumnya saya pernah bekerja di sebuah perusahaan kosmetik. Jadi apoteker juga pernah,” beber lulusan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga Surabaya ini.

Modal awalnya cuma Rp 500 ribu, cukup untuk membeli kain dan pewarna. Dibantu dua karyawan, Putu mulai mengembangkan rumah batiknya yang beralamat di Jl Jemursari Utara II/19 Surabaya. “Saya pilih nama Dewi Saraswati karena senang dengan filosofinya,” sebut Putu, merujuk dewi ilmu pengetahuan dan seni dalam agama Hindu itu.

Di samping itu, “Kebetulan saya lulusan SMA Saraswati Denpasar,” lanjutnya. Motif pertama yang lahir dari galeri batik Dewi Saraswati adalah burung. Berikutnya motif yang jadi ikon Kota Surabaya, yaitu suro, boyo dan semanggi. Namun niat baik Putu mengembangkan motif khas Surabaya kurang mendapat respons.

Karena itu, tahun 2008 dia mulai beralih ke motif Jawa Timuran secara umum. Munculah kemudian motif ayam bekisar, teratai, kupu-kupu, burung dan lainnya. “Sambutan pasar mulai bagus, dan itu makin menyemangati saya untuk menemukan motif-motif lainnya,” ujar ibu dua anak ini. Kini Putu tidak bisa menghitung berapa motif batik yang sudah dia ciptakan. Kisarannya mencapai ratusan, dan terus bertambah setiap hari.

Lebih satu dasawarsa membangun usaha batik, Putu sekarang bisa tersenyum lebar. Produk galerinya berupa kain panjang, sarimbit, selendang, hingga aneka busaha untuk perempuan, selalu ditunggu konsumen. Termurah, dia menjual kain batik ukuran 2,5 meter seharga Rp 400 ribu. “Yang termahal bisa sampai Rp 600 ribu ke atas,” sebutnya.

Sedangkan baju batik bisa menembus Rp 2 juta per potong. Menurut Putu, besaran harga produknya tergantung bahan, komposisi warna, dan kerumitan motif. Mengandalkan sistem pemasaran getok tular, omzet penjualan Batik Saraswati mencapai Rp 150 juta per bulan. Konsumennya kebanyakan dari instansi pemerintah, baik Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim, kalangan perbankan, petinggi militer, serta wisatawan dari Jakarta.

Putu terbilang getol mengikuti pameran karena sangat efektif untuk menggaet konsumen kalangan menengah ke atas. Hampir seluruh kota besar di Indonesia pernah dia singgahi. “Kalau di luar negeri saya pernah pameran di Italia, Australia, Jerman dan Swiss. Semua difasilitasi Pemprov Jatim,” ungkap perempuan berparas ayu ini.

Meski permintaan dari luar negeri ada, tapi Putu tidak berani terburu-buru memenuhinya. Dia khawatir bila standarnya tidak memenuhi baju-baju buatannya bakal dikembalikan. Putu sadar persaingan di bisnis batik semakin ketat. Untuk itu, agar tetap dilirik orang, ibarat gadis dirinya harus rajin berhias. Dibantu 45 karyawan, galeri batiknya tak pernah henti menelurkan karya-karya baru. (lin/INI-Network)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here