Mandatori B20 Tak Bisa Obati Defisit Neraca Dagang

Kondisi neraca dagang RI semakin memprihatinkan, terlihat dari angka defisit perdagangan pada November 2018 yang tercatat paling parah sepanjang tahun ini. Strategi pemerintah dalam program mandatori pencampuran biodiesel sebesar 20% ke dalam solar atau dikenal program B20 dinilai tidak akan mampu mengobati defisit neraca perdagangan negeri ini.

Indonesiainside.id, Jakarta — Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menilai program pemerintah dalam menaikkan B15 menjadi B20 tidak akan mampu mengobati defisit neraca perdagangan negeri ini. Hal itu karena defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas) terlampau besar.

“Defisit neraca perdagangan seolah-olah bisa diperbaiki hanya dengan menaikkan B15 jadi B20, tidak semudah itu,” kata Sudirman Said dalam Indonesia Clean Energy Dialogue, Rabu (19/12/2018).

Menurut Sudirman yang saat ini menjadi bagian dari tim pemenangan calon Presiden-Wakil Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, faktor yang menyebabkan defisit neraca perdagangan adalah defisit migas terutama belanja PT Pertamina (Persero) yang mengimpor BBM sangat besar, sehingga berpengaruh terhadap kestabilan kurs.

Karena itu, pemerintah semestinya mengikuti tren di negara-negara maju seperti kesadaran penggunaan energi bersih, dan mulai investasi di sana. “Mengapa kita tidak serius membuat dunia investasi di sektor energi baru cukup agresif? Malahan sesuatu yang sudah baik untuk alasan apapun dianulir sehingga membawa pada situasi sekarang,” katanya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here