Mandatori B20 Tak Bisa Obati Defisit Neraca Dagang

Dia menilai saat ini pemerintah kurang kuat mendorong untuk mengatasi masalah-masalah besar. “Kita tidak cukup kuat untuk hadapi masalah sulit dan terperangkap hal pragmatis. Ini bukan soal pemerintahnya saja tapi politisi kita juga, eksekutif, legislatif, yudikatif tidak cukup kuat,” paparnya.

Di November ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang mencapai US$ 2,05 miliar, terparah sepanjang tahun ini.

Biang kerok defisit dagang ini masih dari sektor migas. Impor migas per November masih bengkak dan menyumbang defisit US$ 1,5 miliar. Sepanjang Januari-November, tercatat defisit sudah mencapai US$ 12,15 miliar atau setara Rp 176 triliun.

Di sisi lain, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai kondisi defisit neraca perdagangan RI pada November 2018 disebabkan oleh kinerja ekspor yang kurang baik. Banyak tantangan eksternal yang dihadapi Indonesia untuk menggenjot kinerja ekspor dan mengatasi defisit neraca perdagangan.

“Beberapa komoditas Indonesia, maupun pasar tempat Indonesia untuk mengekspor harus dilihat hati-hati karena pertumbuhan ekonomi China dalam adjustment,” jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi China diprediksi kian melambat hingga akhir tahun, sehingga ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu itu pun tak bisa optimal. Data BPS menunjukkan, ekspor Indonesia ke China pada November turun US$153,8 juta ketimbang bulan sebelumnya. Penurunan terjadi menyusul pelemahan pertumbuhan ekonomi China di kuartal III lalu yang hanya mencapai 6,5% atau melemah dibanding kuartal sebelum 6,7%.(*/dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here