Resiko Utang BUMN Perlu Diwaspadai

Jika BUMN mengalami kerugian atau kebutuhan dana jangka pendek, maka jalan pintas yang biasa ditempuh yaitu dengan injeksi Penyertaan Modal Negara dari dana APBN.

Indonesiainside.id, Jakarta — Utang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga Rabu (19/12) naik Rp 2.000 triliun, sebagian mengalir ke BUMN infrastruktur, namun BUMN infrastruktur diduga tidak mengelola dengan baik mengingat adanya proyek fiktif seperti di Waskita beton.

Ekonom INDEF Abra Talattov mengatakan, kenaikan utang swasta termasuk BUMN) 7,7% per Oktober naik 2 kali lipat dari pertumbuhan utang pemerintah 3,3% memang perlu diwaspadai.

“Resiko utang BUMN perlu diantisipasi karena sangat rentan terhadap ekonomi domestik,” ujarnya di Jakarta, Rabu (19/12).

Abra menyebutkan, pengaruh terhadap ekonomi domestik salah satunya ialah potensi terjadinya mismatch jatuh tempo utang dan cashflow, sehingga terjadi desakan untuk menambah utang baru dengan biaya lebih tinggi di tengah likuiditas domestik yang ketat.

“Sebab, pemerintah juga gencar menarik utang. Apalagi proyek infrastruktur memiliki return dalam jangka panjang,” katanya.

Resiko berikutnya, kata Abra, resiko utang BUMN juga menjadi tekanan teehadap keuangan negara. Menurut dia, jika BUMN mengalami kerugian atau kebutuhan dana jangka pendek, maka jalan pintas yang biasa ditempuh yaitu dengan injeksi Penyertaan Modal Negara dari dana APBN.

“Akibatnya dana untuk kepentingan publik pun harus dikorbankan,” ujar dia.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here