Kondisi Moneter di 2019 Cenderung Ketat, Tantangan bagi Perbankan

bank indonesia
Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Istimewa

Sejumlah ekonom memperkirakan kondisi moneter di 2019 diperkirakan cenderung ketat, ditandai prediksi kenaikan suku bunga acuan minimal 2 kali dari Bank Indonesia, mengikuti kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Hal itu menjadi tantangan bagi perbankan di Indonesia.

Indonesiainside.id, Jakarta — Hal itu disampaikan Peneliti Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah dan Ekonom Indef Bhima Yudhistira secara terpisah di Jakarta. Menurut Piter, seiring kondisi moneter yang ketat, perbankan dipastikan akan berebut dana, terutama di bank-bank kelompok bank buku I sampai buku III yang sudah mulai mengalami ketatnya likuiditas.

Perang suku bunga yang sudah terjadi tahun ini akan semakin keras pada 2019. Selain itu, juga berpotensi mendorong suku bunga simpanan ke atas melewati suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). “Kenaikan suku bunga simpanan di bank buku I sampai buku III dapat dipastikan akan mengundang kenaikan suku bunga di bank buku IV,” ungkapnya.

Sementara Bhima Yudhistira menilai, 2019 diperkirakan terjadi peningkatan bunga acuan. Karena itu, bank akan semakin berebut menaikkan bunga.

Jika bank terlambat menaikkan bunga, likuiditasnya makin ketat. Tekanan likuiditas paling dirasakan bank buku I dan II. “Adapun saat ini loan to deposito ratio (LDR) bank umum sudah 94%,” imbuhnya.

Menurut dia, kejar-kejaran bunga ini sebenarnya kurang sehat lantaran bunga simpanan yang naik berimbas pada bunga kredit. “Cost of borrowing yang terus meningkat menyulitkan pelaku usaha untuk ekspansi,” cetusnya.(*/dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here