Pengamat Transportasi: Kecepatan Bukan Tolak Ukur Keberhasilan

Marka batas kecepatan di jalan. Foto: Istimewa.

Batas kecepatan mengendarai di jalan tol, diatur dalam Peraturan Menteri (PM) Perhubungan 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan. Penetapan batas kecepatan dimaksudkan untuk mencegah kejadian dan fatalitas kecelakaan serta mempertahankan mobilitas lalu lintas. Juga bertujuan untuk kualitas hidup masyarakat.

Indonesiainside.id, Jakarta — Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menjelaskan, setiap jalan memiliki batas kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara nasional. Batas kecepatan paling tinggi meliputi batas kecepatan jalan bebas hambatan, jalan antarkota, jalan pada kawasan perkotaan dan jalan pada kawasan permukiman.

“Batas kecepatan paling rendah 60 km per jam dan paling tinggi 100 km per jam untuk jalan bebas hambatan (termasuk di dalamnya jalan tol). Paling tinggi 80 km per jam untuk jalan antar kota, paling tinggi 50 km per jam untuk jalan kawasan perkotaan dan maksimal 30 km per jam untuk jalan kawasan permukiman,” ujarnya di Jakarta.

Ia menyarankan, meski di jalan tol sudah ada rambu maksimum 100 km per jam, minimum 60 km per jam. Sebaiknya juga diberikan marka batas kecepatan sebagai penambah ingatan bagi pengemudi. Perlu pula dilengkapi kamera pemantau kecepatan (speed camera). Jika ada kendaraan yang melanggar, selain kelebihan kecepatan juga kurang dari batas minimal kecepatan yang sudah ditetapkan, bisa dikenakan sanksi hukum.

“Sepanjang jalan juga diberikan spanduk yang menyebutkan jika kendaraan yang lewat tol ini dilakukan pemantauan yang diawasi dengan kamera. Jika melanggar akan dikenakan sanksi sesuai aturan,” saran dia.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here