Menkeu Akui Gejolak Ekonomi di Akhir 2018

Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Antara.

Gejolak ekonomi global mempengaruhi perekonomian nasional sehingga proyeksi pertumbuhan mesti dikoreksi turun.

Indonesiainside.id, Jakarta — Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengkoreksi proyeksi realisasi pertumbuhan ekonomi 2018 menjadi sebesar 5,15 persen, lebih rendah dari sebelumnya yang diprediksi mencapai 5,17 persen.

Menurut dia, angka ini masih menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi RI masih tetap terjaga. “Kami perkirakan di akhir 2018 ini, 5,15 persen ini sedikit revisi dari 5,17 persen. Karena, gejolak mulai terasa pada kuartal terakhir,” kata Sri Mulyani di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, kemarin.

Dia menegaskan, kinerja ekonomi Indonesia masih tetap tumbuh terjaga di atas lima persen dan meningkat setiap tahunnya. Realisasi ini juga diakui, masih di bawah asumsi APBN 2018, yang ditetapkan sebesar 5,4 persen.

Ani berdalih, pertumbuhan ekonomi yang belum mencapai asumsi APBN 2018 ini, lantaran gejolak ketidakpastian global yang meningkat. Khususnya, permintaan ekonomi secara global yang direvisi. “Kedua, harga komoditas dan volatilitasnya yang cenderung melemah pada kuartal terakhir,” kata dia.

Ia menerangkan, gejolak global yang terjadi pada 2018, juga disebabkan oleh kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed yang menaikkan suku bunga hingga tensi perang dagang AS-China. Hal itu terlihat, pada permintaan ekonomi global yang menurun dan semakin banyaknya arus modal yang masuk ke AS. “Capital Flow volatility ini pengaruhnya kepada investasi dan akan muncul di capital market,” katanya.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here