Kadin: Ketergantungan Impor Energi RI Sangat Besar

Ilustrasi kilang minyak. Foto: IST

Kadin Indonesia menyoroti ketergantungan impor energi di Indonesia yang masih sangat besar. Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus untuk masalah ini.

Indonesiainside.id, Jakarta — Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Energi dan Migas, Bobby Gafur Umar, menilai ketergantugan impor energi di Indonesia masih sangat besar. Dia mencontohkan dari kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) sebanyak 1,6 juta barel per hari, produksi nasional hanya memenuhi 720 ribu-740 ribu barel per hari.

Oleh karena itu, lanjut dia, perlu produksi lebih banyak untuk menutup kekurangan tersebut. “Pemerintah perlu segera dorong investasi di hulu migas. Demand akan naik terus. Sementara produksi akan turun terus kalau tidak segera didorong untuk investasi baru,” kata Bobby.

Untuk menarik investasi hulu migas, Bobby menuturkan, perlu penambahan insentif fiskal. Insentif fiskal tersebut termasuk aturan perpajakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan.

Besarnya impor energi, lanjut dia, berpengaruh terhadap defisit neraca perdagangan. Untuk itu, Bobby menambahkan, guna mengurangi defisit neraca perdagangan perlu digalakan penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pada setiap proyek yang digunakan pemerintah. Dengan begitu nilai impor bisa ditekan. “Pemerintah harus tegas menerapkan TKDN,” ujar dia.

Seperti diketahui, realisasi subsidi energi yang diberikan pemerintah sepanjang 2018 telah mencapai Rp 153,5 triliun, atau lebih tinggi dari target APBN sebesar Rp 94,5 triliun. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan LPG juga mengalami pembengkakan menjadi Rp 97 triliun dari target APBN sebesar Rp 46,9 triliun.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here