Impor Jagung Bukti Program Ketahanan Pangan Pemerintah Meleset

Oleh: Andryanto S dan Ahmad ZR

Program ketahanan pangan dan swasembada pemerintah belum berhasil karena masih banyak komoditas pangan yang dipenuhi dengan cara impor.

Indonesiainside.id, Jakarta — Ekonom INDEF Rusli Abdullah menilai program ketahanan pangan dan swasembada pemerintah masih meleset dari target karena perencanaan yang belum valid.

“Pemerintah kita belum mampu swasembada pangan. Gagal. Bahkan yang terbaru, pakan jagung untuk ternak saja masih impor. Kemarin ada impor beras 2,8 juta ton. Kedelai untuk bahan baku tempe dari Argentina dan Amerika juga impor. Termasuk gandum,” ujarnya saat dihubungi Indonesiainside.id di Jakarta.

Dia menyebutkan, data perencanaan pemerintah Jokowi-JK terkait swasembada pangan pada tahun 2014 sangat carut-marut. Meski demikian, ia optimis perencanaan swasembada pangan di tahun 2019 lebih baik karena memiliki data yang valid.

“Pemerintah saat ini dalam perwujudan kedaulatan pangan masih semrawut. Tapi mungkin di tahun 2019 lebih tertata dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Minimal datanya lebih akurat,” ujarnya.

Sesuai mandat pemilu 2014, kata Rusli, seharusnya Jokowi lebih memprioritaskan janji kampanye yang dapat direalisasikan. “Sebisa mungkin Pak Jokowi seharusnya menepati janji yang dapat ditepati sampai Oktober 2019,” pungkasnya.

Terkait impor pangan, pemerintah berencana untuk mengimpor jagung sebanyak 30 ribu ton pada 2019. Upaya itu dilakukan lantaran harga jagung untuk pakan ternak yang belakangan ini cenderung merangkak naik.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, keputusan impor itu merupakan hasil dari rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. “Keputusan dari rakor, sudah (ditetapkan). 30 ribu (ton),” kata Enggar ditemui usai sidang kabinet di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (7/1).

Impor jagung ini akan dilakukan oleh Perum Bulog. Enggar menegaskan, pihaknya masih memproses perizinan impor tersebut. “Baru surat permintaan Bulog, segera saya kirim,” kata Enggar.

Dia menegaskan, impor dilakukan karena RI kekurangan jagung. Mengenai produksi jagung, dia mengaku tidak mengetahui secara persis bagaimana kinerjanya saat ini. “Ya kurang. Tanyanya sama yang produksi (Kementan),” katanya.

Pada 2018, pemerintah telah mengeluarkan izin impor jagung sebanyak 100 ribu ton melalui Bulog. Impor 30 ribu ton jagung kali ini merupakan bagian tambahan proses impor jagung.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pakan ternak yang dapat berujung kepada kenaikan harga telur. “Kan kemarin sudah 100 ribu (impor jagung) keluar, ini tambahan kedua 30 ribu,” katanya. (*/dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here