Dua Masalah Utama Bayangi Sektor Pembangkitan Listrik

pembangkit listrik
Ilustrasi Pembangkit Listrik. Foto: Istimewa

Oleh: Ahmad Z.R

Tingginya harga energy terutama minyak dan gas serta kurs dolar yang masih bertahan di level Rp 14.000/US$ menjadi dua masalah utama di sector pembangkitan listrik.

Indonesiainside.id, Jakarta — Direktur IRESS Marwan Batubara menilai miris melihat cadangan operasional pembangkit listrik di Pulau Jawa dan Bali yang tersisa hanya 0,26% dari kapasitas total.

“Saya miris saja dengan PLN. Tapi untung saja harga minyak turun dan dolar naik lagi,” ujar Marwan kepada Indonesiainside.id, Rabu (9/1).

Menurut dia, dua masalah utama PLN yakni, pertama harga minyak dan gas mengalami kenaikan. Kedua dolar masih bertahan di angka Rp14.000 lebih.

Karena itu, Marwan mendorong pemerintah untuk menjamin kelangsungan berjalannya PLN. Karena itu, pemerintah dapat memberikan hak monopoli agar PLN dapat melakukan subsidi silang dari daerah yang memiliki banyak pasokan listrik ke daerah yang listriknya rendah seperti di pedalaman Indonesia.

“Soal tarif (listrik) yang tidak naik dan membuat PLN rugi, seharusnya disubsidi oleh APBN. Jangan dibiarkan ditanggung oleh PLN. Yang terpenting listrik dari perusahaan swasta tidak justru dibeli PLN dengan harga mahal dan menggunakan skema take or pay (ambil atau bayar). Skema ini yang terkadang membuat PLN rugi,” tuturnya.

Karena itu, ia lebih menyarankan agar bisnis PLN dijamin oleh pemerintah karena keberlangsungan usahanya dijamin oleh Undang-Undang.

“PLN jangan dibebani tugas pemerintah di luar konstitusi. Misalkan ada kegiatan pemerintah membagikan sembako di suatu daerah, tidak boleh PLN harus nanggung dan kita minta manajemen (PLN) transparan,” ujar dia. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here