Lonjakan Impor Gula Rentan Praktek Pemburuan Rente

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Oleh Andryanto S

Ekonom senior Faisal Basri menyoroti besarnya impor gula yang dilakukan Indonesia sepanjang 2017-2018. Lonjakan impor itu disinyalir rentan dengan praktek pemburuan rente untuk kepentingan politik.

Indonesiainside.id, Jakarta – Faisal Basri mengungkap data mencengangkan bahwa Indonesia menjadi importer gula terbesar di dunia pada periode 2017-2018.

“Menjelang pemilu, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di dunia. Praktek rente gila-gilaan seperti ini berkontribusi memperburuk defisit perdagangan,” ujar Faisal di akun medsos twitter miliknya, Rabu (9/1).

Faisal yang juga Dosen Ekonomi Universitas Indonesia itu mengutip data Statista—lembaga penelitian global bahwa pada periode 2017-2018 Indonesia mengimpor 4,45 juta ton, tertinggi secara global. Impor gula Indonesia melampaui China dengan jumlah 4,2 juta ton, Amerika Serikat 3,11 juta ton, Uni Emirat Arab 2,94 juta ton, Bangladesh 2,67 juta ton, Algeria 2,27 juta ton, Malaysia 2,02 juta ton, Nigeria 1,87 juta ton, Korea Selatan 1,73 juta ton, dan Arab Saudi 1,4 juta ton.

“Segala upaya telah dilakukan Pemerintah untuk menekan defisit perdagangan, kecuali memerangi praktek pemburuan rente dan memecat Menteri Perdagangan,” kata Faisal.

Dia menilai, kenaikan tajam impor gula menyumbang kontribusi besar terhadap defisit neraca perdagangan. Sejak merdeka pada 1945, Indonesia hanya mencatat defisit perdagangan selama tujuh kali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit perdagangan antara lain terjadi pada 1945, 1952, 1961, 2012, 2013, 2014, dan 2018.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here