Biaya Pembangunan LRT Rp 500 Miliar/Km Menuai Kritikan

Oleh: Andryanto S

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla melontarkan kritikan terkait pembangunan kereta ringan (light rail transit/LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek).

Indonesiainside.id, Jakarta – Kritikan terus mengalir seputar pembangunan proyek-proyek infrastruktur di negeri ini. Kali ini, Wapres Jusuf Kalla menilai terjadi sejumlah inefisiensi dalam pembangunan LRT yang menghubungkan Jabodetabek.

Menurut Wapres, inefisiensi pertama bisa dilihat dari keputusan pembangunan rel secara melayang. Padahal, harga tanah yang tidak terlalu mahal di perbatasan Jakarta dan wilayah-wilayah di luar Jakarta bisa membuat pembangunan rel reguler dilakukan dengan lebih murah.

“Kalau di luar kota, lahan masih murah kok. Masak, penduduk tidak ada, kenapa mesti (dibangun) elevated di luar kota?” Tanya Jusuf Kalla di hadapan para konsultan dalam pembukaan Rapat Koordinasi Pimpinan Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (11/1).

Inefisiensi kedua, lanjut dia, adalah pembangunan rel tepat di samping jalan tol Jakarta-Cikampek. Infrastruktur kereta ringan biasanya dibangun di lokasi berbeda dengan infrastruktur perhubungan yang sudah ada. “Buat apa elevated kalau hanya berada di samping jalan tol?” ujarnya.

Dia menegaskan, inefisiensi-inefisiensi itu membuat biaya pembangunan melambung tinggi, mencapai Rp500 miliar per kilometer. BUMN PT Adhi Karya sebagai pihak yang membangun infrastruktur LRT pun diperkirakan sulit mengembalikan modal investasi.

Wapres mempertanyakan kecakapan konsultan yang merancang proyek. “Siapa konsultan yang memimpin ini, sehingga biayanya Rp500 miliar per kilometer? Kapan kembalinya kalau dihitungnya seperti itu?” ujarnya. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here