Kebijakan Pengendalian Tembakau di Era Jokowi Alami Kemunduran

perkebunan tembakau. Foto : agrowindo.com

Oleh: Ahmad Z.R

Meski ada sedikit oase dari Kemendagri yang menginstruksikan seluruh Pemda untuk membuat regulasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR), nyatanya hal tersebut baru terealisasi sebesar 35 persen.

Indonesiainside.id, Jakarta — Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menyebutkan beberapa indikator menunjukkan bahwa janji Jokowi meningkatkan kualitas hidup belum tercapai. Indikator yang pa|ing menonjol adalah meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular, seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi.

Peningkatan ini bisa dideteksi dari data hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2018. Jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, terjadi peningkatan signifikan pada hasil Riskesdas 2018. Prevalensi kanker dari semula sebesar 1,4 persen (2013) menjadi 1,8 persen (2018), prevalensi stroke dari 7 persen menjadi 10,9 persen, penyakit ginjal kronik dari 2 persen menjadi 3,8 persen dan penyakit diabetes melitus dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen.

“Melambungnya prevalensi penyakit tidak menular ini berkorelasi dengan gaya hidup seperti merokok, minimnya aktivitas fisik, minimnya asupan buah dan sayur, serta konsumsi minuman beralkohol,” ujar Tulus dalam sebuah diskusi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (11/1).

Ia menilai, meski rokok bukan penyebab tunggal, tetapi konsumsi rokok punya kontribusi paling signifikan, mengingat Iebih dari 35 persen orang Indonesia adalah perokok aktif, dan Iebih dari 70 persen sebagai perokok pasif (passive smoker). Menurut dia, tiap tahun produksi rokok nasional Indonesia mencapai 350 miliar batang, dimana 90 persen Iebih dikonsumsi masyarakat Indonesia.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here