Revitalisasi Pabrik Gula Masih Setengah Hati

Pengamat ekonomi, Revrisond Baswir. Foto: Kabarin

Oleh: Andryanto S |

Persoalan komoditas gula terus bergulir, dari mulai impor yang melonjak hingga revitalisasi pabrik yang dinilai masih setengah hati.

Indonesiainside.id, Jakarta — Pengamat ekonomi Revrisond Baswir menilai revitalisasi pabrik gula di seluruh Indonesia masih dilakukan setengah hati. Dampaknya, pabrik gula di negeri ini tergolong berumur tua dan tidak efisien lagi sehingga memicu tingginya harga domestik dibanding harga internasional.

“Revitalisasi pabrik kelihatan setengah hati, seharusnya revitalisasi menyeluruh,” kata Revrisond dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, kemarin.

Revrisond menjelaskan pabrik gula yang sudah tua dan tidak lagi efisien menghasilkan gula dalam negeri yang mahal dan harganya lebih tinggi dari gula impor.

Namun, dia mengakui revitalisasi pabrik gula masih sulit dilakukan karena penanam modal ragu melihat produksi tebu nasional yang belum mencukupi untuk kebutuhan pabrik gula.

“Selama ini lahan tebu masih bercampur-campur, karena jarang lahan tebu saja tanpa ditanami apa-apa lagi,” ujar pengajar Universitas Gadjah Mada ini.

Selain itu, perluasan lahan tidak mudah dilakukan karena perubahan peruntukan lahan pertanian masih menjadi kendala dan belum ada upaya serius untuk membenahi masalah ini.

Kesenjangan harga gula di pasar domestik dan pasar internasional dituding menjadi salah satu faktor yang memicu pemburuan rente dalam impor gula. Ekonom Faisal Basri sebelumnya menuding para pemburu rente meraup triliunan rupiah dari praktik impor gula sepanjang 2017-2018. Perhitungan itu didasarkan dari besarnya selisih antara harga rata-rata gula di dunia dengan harga ritel gula di Indonesia.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here