Misi Kominfo Bawa RI Jadi Energi Digital Asia

Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk 'Investasi Unicorn untuk Siapa?' di Jakarta, Selasa (26/2). Foto: Ahmad Z.R/Indonesiainside

Oleh: Ahmad Z.R |

Ledakan pada bisnis rintisan Indonesia Startup Unicorn kini menjadi salah satu pemain kunci ekonomi digital Indonesia.

Indonesiainside.id, Jakarta — Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan misi Indonesia untuk menjadi ‘Energi Digital Asia’. Ia menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengakselerasi pengembangan teknologi digital, mendorong pembangunan infrastruktur, meningkatkan penetrasi dan produktivitas.

“Kami telah memiliki Palapa Ring sehingga semua masyarakat Indonesia dapat menikmati konektivitas internet broadband,” ujar Rudiantara dalam diskusi di Gedung Kominfo, Jakarta, Selasa (26/2).

Menurutnya, sekitar 2/3 dari 264 juta penduduk berada di usia produktif yakni antara usia 15 sampai 64 tahun. Hampir semuanya telah mendapatkan penetrasi teknologi komunikasi yang baik. 105 juta diantaranya pengguna internet aktif, 173 juta diantaranya pengguna ponsel aktif, 96 juta merupakan pengguna media sosial yang aktif, dan 28 juta diantaranya konsumen e-commerce yang aktif.

“Indonesia mendapatkan pertumbuhan 17 persen per tahunnya. Pada 2017, bisnis rintisan digital di Indonesia berhasil meraup investasi senilai USD4 Miliar,” jelasnya.

Rudiantara mengungkapkan ledakan pada bisnis rintisan Indonesia dan Unicorn yang kini menjadi salah satu pemain kunci ekonomi digital Indonesia. Ia menambahkan, total nilai empat Unicorn tersebut mampu mengalahkan nilai pasaran operator seluler yang telah berusia 4 dekade.

“Unicorn yang semuanya baru berdiri dalam kurun waktu 8 tahun dengan layanan digital kurang dari 4 tahun telah melampaui nilai operator seluler, kecuali untuk Telkomsel,” ujarnya.

Sementara, dalam penyiapan sumber daya manusia, Kementerian Kominfo juga mendorong industri digital melalui program Digital Talent Scholarships. Program oon-akademik berdurasi 2 bulan diadakan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan digital internasional seperti Microsoft dan Cisco.

“Kami juga kerja sama dengan sejumlah universitas setempat. Topik bahasannya berkisar pada kecerdasan buatan, keamanan siber, komputasi awan dan robotika,” jelas dia.

Sebelumnya, presiden Joko Widodo (Jokowi) memandang peluang dalam bisnis niaga elektronik atau e-commerce di Indonesia masih sangat besar. Salah satu indikatornya adalah laporan riset bersama yang dikeluarkan dua bulan yang lalu oleh Google dan Temasek Singapura atas perkembangan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.

“Google dan Temasek memperkirakan nilai perdagangan e-commerce di Indonesia di tahun 2018 adalah USD 23,2 miliar atau sekitar Rp336 triliun gross merchandise value. Dan angka itu naik kurang lebih 114 persen dari tahun sebelumnya, sebuah lompatan yang sangat tinggi sekali,” kata Jokowi beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Google dan Temasek juga memprediksi bahwa angka itu akan naik dua kali lipat dalam enam tahun ke depan sehingga mencapai USD53 miliar di tahun 2025. “Kira-kira Rp 700 triliun, besar sekali,” lanjutnya.

Mantan Walikota Solo itu mengungkapkan bahwa jumlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia sebanyak 56 juta. Namun demikian, Presiden memandang masih banyak tantangan yang dihadapi oleh UMKM ini, antara lain yang berkaitan dengan membangun brand, desain yang mengikuti keinginan pasar, pengemasan produk yang menarik hingga permodalan dan akses masuk ke pasar.

“Kita lihat ini satu per satu akan bisa selesai kalau dunia usaha, swasta, bersama-sama dengan pemerintah membangun negara ini bersama-sama,” ujarnya.

Ia berharap agar para pelaku usaha tidak hanya mengeksploitasi pertumbuhan ekonomi digital. Ia juga menilai BukaLapak sebagai organisasi yang tidak sekadar mengejar keuntungan. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here