Rupiah Alami Tekanan Berat Berlapis

Ilustrasi. Foto: Infopena

Oleh: Andryanto S

Indonesiainside.id, Jakarta – Sepanjang dua pekan terakhir, nilai tukar (kurs) rupiah terus digempur sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tekanan berat dan berlapis itu antara lain defisit neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 yang tercatat terburuk sepanjang sejarah serta memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Dua tekanan berat tersebut telah merontokkan pertahankan rupiah sehingga melemah sekitar 3,08% sejak pertengahan April 2019 sampai Rabu (15/5). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), pada perdagangan hari ini rupiah terus merosot hingga posisi Rp 14.448/US$, dibanding posisi 18 April 2019 yang tercatat Rp 14.016/US$.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, The Fed mulai mengkhawatirkan perang dagang yang bisa mengurangi potensi ekspansi ekonomi AS saat ini dan akan menggunakan instrumen counter cycle termasuk suku bunga yang lebih rendah.

“Beberapa pejabat The Fed melihat kondisi koreksi pasar saat ini sebagai pertanda melemahnya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi,” ujar Lana.

Saat ini The Fed masih akan mempertahankan suku bunganya pada kisaran antara 2,25-2,5 persen terutama dengan memperhatikan kondisi ketenagakerjaan dan inflasi.

Pada April 2019 pertumbuhan harga impor di AS tumbuh 0,2 persen (bulan ke bulan/mom), melambat dibandingkan Maret 2019 yang tumbuh 0,6 persen (mom), dan di bawah ekspektasi konsensus 0,7 persen (mom). Kenaikan ini terutama karena naiknya harga energi dan makanan.

“Pertumbuhan ini belum memfaktorkan tensi perang dagang yang semakin menguat di awal Mei ini,” kata Lana seperti dikutip Antara. Lana memprediksi, pada hari ini rupiah akan cenderung melemah di kisaran Rp14.440/US$ sampai Rp14.470/US$.

Selain faktor perang dagang AS dan Cina, kondisi perdagangan domestik Indonesia juga menjadi sentiment negative bagi rupiah. Data terbaru yang dirilis BPS menyebutkan neraca dagang April 2019 tercatat defisit US$ 2,5 miliar. Angka tersebut merupakan rekor terburuk sepanjang sejarah di Indonesia.

Pascamerdeka atau lebih tepatnya sejak tahun 1960 saat negeri ini mulai membangun, menurut data Trading Economics, Indonesia belum pernah mencapai defisit neraca perdagangan setinggi itu. Defisit neraca dagang April 2019 juga melampaui rekor sebelumnya yang dicetak pada Juli 2013 dengan defisit US$ 2,33 miliar dolar AS.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebut berdasarkan data yang dia bawa sejak 2008, defisit April 2019 merupakan yang tertinggi. Dia mengaku tidak membawa data sejak 1960. “Saya tidak bawa datanya. Tadi saya bilang data yang saya bawa ini sampai 2008. Sejak kapan (tertinggi)? Sejak saya belum lahir,” kata Suhariyanto saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (15/5).

Menurut dia, defisit neraca dagang pada April 2019 disumbang oleh defisit migas US$ 1,49 miliar. Neraca nonmigas yang biasanya surplus, juga tercatat defisit US$ 1 miliar. “Kita berharap ke depan, neraca perdagangan membaik,” ujarnya. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here