Kelas Menengah, Peluang dan Beban Pembangunan

sri-mulyani
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Foto: Istimewa

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta — Menteri Keuangan Sri Mulyani khawatir menghadapi pertumbuhan kelas ekonomi menengah. Naiknya kelompok ekonomi ini bisa menciptakan tekanan besar terhadap pelayanan publik.

“Diperkirakan sekarang ini ada di 20% dan akan menjadi lebih dari itu dua kali lipat pada 2030,” ujarnya saat rapat bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR, Selasa (11/6).

Menurutnya, naiknya kelas menengah ini akan menciptakan tantangan besar terhadap visi Indonesia maju tahun 2045. Sementara pada sisi lain, pemerintah belum mampu secara total merespons daya beli maupun gaya hidup mereka.

Menurut Asia Development Bank (ADB) kelas menengah adalah masyarakat dengan rentang pengeluaran perkapita perhari sebasar 2-20 dolar. Rentang inilah yang kini dipakai untuk mengukur jumlah keas menengah di Indonesia.

Rentang pengeluaran perkapita tersebut dibagi lagi ke dalam tiga kelompok yaitu masyarakat kelas menengah bawah (lower middle class) dengan pengeluaran perkapita perhari sebesar 2-4 dolar; kelas menengah tengah (middle-middle class) sebesar 4-10 dolar; dan kelas menengah atas (upper-middle class) 10-20 dolar.

Dengan rentang pengeluaran tersebut ADB memperkirakan jumlah kelas menengah Indonesia sebanyak 134 juta (2010) atau sekitar 56% dari seluruh penduduk, suatu jumlah yang sudah cukup besar.

Tantangan lainnya yakni, meningkatnya tren urbanisasi. Dampak dari urbanisasi, lanjutnya, akan meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan fasilitas dan infrastruktur dalam rangka menciptakan kualitas hidup, termasuk ketahanan pangan.

“Dari sisi demografi, skill agitusi kita jumlah penduduknya banyak yang masih muda. Harusnya ini adalah dua hal positif, namun menjadi kurang optimal karena penduduk kita memilki skill yang tidak cukup baik, levelnya juga missmatch terhadap kebutuhan pasar,” imbuhnya.

Konsentrasi pembangunan hanya di Pulau Jawa juga menjadi masalah lain dari segi pemerataan ekonomi. Baik sisi kontribusi pendapatan gross income maupun income per capita. “Risikonya jadi sangat terkonsentrasi di satu wilayah dan menimbulkan potensi stabilitas bagi ekonomi kita.” (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here