Giant Tutup Gerai, Hero Dinilai Lamban Beradaptasi dengan Perubahan Pasar

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta — Sebanyak 6 ritel Giant, anak usaha milik PT Hero Supermaket akan ditutup pada 28 Juli mendatang. Rencana penutupan ditandai dengan diberikannya diskon besar-besaran dengan tagline ‘Semua Harus Terjual Habis’.

Informasi yang didapat redaksi, keenam ritel yang akan ditutup yakni, Giant Ekspres Cinere Mall, Giant Ekspres Mampang, Giant Ekspres Pondok Timur, Giant Ekstra Jatimakmur, Giant Ekstra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Ekstra Wisma Asri. Sebagai upaya penghabisan barang, mereka memberi diskon dari 5 sampai 50%.

Menurut dokumen laporan keuangan Kuartal 1 2019, PT Hero Supermaket mencatatkan pendapatan bersih Rp 3,06 triliun. Naik tipis 0,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Penjualan untuk periode ini sedikit lebih baik dari periode yang sama tahun lalu, di mana bisnis Non-Makanan terus berkinerja baik dansebagian diimbangi pelemahan dalam bisnis Makanan,” tulis Presiden Direktur, Patrik Lindvall dalam pengantar laporannya dikutip Senin (24/3).

Meski demikian perusahaan mencatat kerugian bersih sebesar Rp4 miliar, secara umum sama jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Sementara laba bersih pada kuartal pertama ini tercatat Rp3.060 miliar.

Secara tahunan, perseroan mengalami penurunan pendapatan bersih sebesar 0,5% menjadi Rp12.970 miliar pada tahun 2018 dibanding dua tahun lalu sebesar Rp13.034.

“Berdasarkan tinjauan strategis, biaya restrukturisasi bisnis Makanan Rp 1.380 miliar. Kerugian bersih sebesar Rp 1.250 miliar,” tulis Lindvall dalam laporannya.

Guardian dan IKEA disebut membukukan kinerja yang sangat baik, tetapi diimbangi penurunan kinerja yang berkelanjutan pada bisnis Supermarket dan Hypermarket Perseroan. Lindvell mengaku, usahanya tengah menghadapi tantangan seiring beruhanya preferensi pelanggan.

“Saat ini, pelanggan menginginkan akses terhadap produk dengan berbagai macam cara melalui format, lingkup, dan lokasi yang berbeda dan kami merasakan dampaknya karena terlambat dalam menanggapi perubahan dinamika konsumen,” ujarnya. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here