Kritisi Pemindahan Ibukota, Emil Salim: Bisa Picu Ekonomi Biaya Tinggi

emil_salim
Emil Salim. Foto: Antara

Oleh: Annisa Fadliyah

Indonesiainside.id, Jakarta – Emil Salim, pakar lingkungan sekaligus mantan Menteri di Zaman Orde Baru, ikut mengkritisi rencana pemindahan Ibukota Jakarta. Dia menilai bila sektor bisnis dan keuangan tetap di Jakarta, dan dipisahkan dengan urusan pemerintahan yang pindah ke Kalimantan, hal itu bisa memicu ekonomi biaya tinggi (high cost economy).

“Bila urusan bisnis-keuangan tetap di Jakarta dan dipisahkan dari urusan Pemerintah yang pindah ke Kalimantan, bukankah biaya bangun bisnis di Indonesia semakin mahal ketika perlu wara-wiri mengurus izin-izin Depdagri, Dephub, Dephukum di Kalimantan,” kata Emil seperti dikutip dari akun twitternya di Jakarta, Minggu (18/8).

Dia juga mempertanyakan urgensi pemindahan Ibukota. “Presiden Jokowi minta izin DPR pindah ibukota Negara. Sebaiknya DPR buka kesempatan bagi publik umum mempersoalkan: apa urgensi pindah ibu kota dgn biaya Rp.466 trilliun? Bagaimana nasib gedung2 DPR, Mahkamah Agung, Gedung Pancasila, Bank Indonesia dll?” ujarnya.

“Jika dari 237,6 juta penduduk (sensus 2010) mayoritas penduduk sebanyak 136,4 juta jiwa (57,4%) bermukim di Jawa, kelirukah pola pembangunan jadi “Jawa-centris” karena memenuhi kebutuhan hidup mayoritas ini? Bijakkah ini jadi alasan pindah ibukota dari Jawa,” tanyanya.

Emil Salim menyampaikan Jakarta sebagai Ibukota adalah roh negara ini. “Apakah makna Jakarta sebagai ibu-kota NKRI? Jakarta = tempat lahirnya (1) Sumpah Pemuda; (2) dasar Negara Pancasila; 3) proklamasi kemerdekaan RI; (4) istana Merdeka tempat bendera Belanda digantikan Merah-Putih. Jakarta = ibu-kota & roh Indonesia Merdeka !” tegasnya.(*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here