Betapa Sulitnya Menangkap Koruptor di Sektor Migas

Blok migas Masela
Blok migas Masela di perairan Kepulauan Tanimbar. Foto: Antara

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta – Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menyebut bahwa potensi korupsi di sektor Minyak dan Gas (Migas) cukup besar. Baik di up stream, mid term, maupun down stream.

Dia mencontohkan, ada beberapa pelaku yang berhasil dicokok oleh aparat hukum. Di antaranya mantan direktur utama Pertamina di sektor up stream dan dua orang mantan Ketua SKK Migas di Midterm.

“Yang terbaru, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur Petral sebagai tersangka,” ujarnya di Jakarta Pusat, Rabu (189/).

Dia mengatakan, pengungkapan korupsi di sektor migas memang tidak sebanyak anggota DPR. Namun, katanya, sedikitnya pelaku tersangka bukan tidak ada potensi korupsi di sektor migas.

“Tetapi lebih karena amat rumit membuktikan tindak pidana korupsi di sektor Migas,” jelas mantan anggota Tim Anti Mafia Migas ini.

Fahmy menjelaskan, setelah lebih 4 tahun dilakukan penyidikan dan penyelidikan, KPK baru bisa menetapkan mantan Direktur Utama Petral sebagai tersangka suap pengadaan impor crude dan BBM.

Menurutnya, kerumitan itu disebabkan potensi korupsi Migas melibatkan mafia, korporasi internasioanl, dan lokasi terjadinya korupsi di luar territorial Indonesia.

“Hasil kajian Tim Anti Mafia Migas menyimpulkan bahwa Petral telah digunakan oleh Mafia Migas untuk memburu rente dari monopoli Petral dalarn impor crude dan BBM,” katanya. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here