Kebijakan The Fed Lemahkan Posisi Rupiah

Ilustrasi Mata Uang Rupiah Melemah.
Ilustrasi Mata Uang Rupiah Melemah. Foto: Istimewa

Oleh Andryanto S

Indonesiainside.id, Jakarta — Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis (19/9) pagi, bergerak melemah 34 poin atau 0,24 persen menjadi Rp14.094 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.060 per dolar AS. Pergerakan rupiah dipengaruhi penguatan dolar AS yang mendapat ‘angin segar’ dari kebijakan The Federal Reserve AS atau bank sentral AS.

Seperti diketahui, The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin di tengah meningkatnya risiko dan ketidakpastian yang berasal dari ketegangan perdagangan dan perlambatan ekonomi global. Penurunan suku bunga AS ini merupakan yang kedua kali menyusul penurunan suku bunga pada Juli 2019, yang pertama dalam lebih dari satu dasawarsa.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral Indonesia akan melakukan rapat dewan gubernur pada Kamis sore. Sejumlah ekonom menilai BI akan mengikuti langkah The Fed dalam memangkas suku bunga, namun ada juga ekonom yang berpandangan sebaliknya.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), badan penetapan suku bunga Fed, memangkas target untuk suku bunga acuan dana federal ( federal funds rate) sebesar 25 basis poin menjadi ke kisaran 1,75 persen hingga 2,00 persen setelah menyimpulkan pertemuan kebijakan dua hari, sebagian besar sejalan dengan ekspektasi pasar.

Baca Juga:  Stimulus Belum Jelas, Dolar Pun Lunglai Hari Ini

“Meskipun pasar tenaga kerja kuat dan pertumbuhan yang kuat dalam pengeluaran rumah tangga, investasi bisnis dan ekspor justru melemah,” kata FOMC dalam sebuah pernyataan, Rabu waktu setempat atau Kamis (19/9) dini hari.

“Pada basis 12 bulan, inflasi keseluruhan dan inflasi untuk barang-barang selain makanan dan energi berjalan di bawah target inflasi bank sentral sebesar dua persen,” kata FOMC.

Memperhatikan kebijakan perdagangan membebani prospek pertumbuhan, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa kebijakan moneter dapat mengatasi perlambatan sampai batas tertentu. “Tetapi ada sebagian dari ini yang kita benar-benar tidak bisa atasi.”

“Kita perlu melihat melalui situasi yang cukup fluktuatif,” kata Powell. “Itu berarti, tidak bereaksi berlebihan dengan cepat, itu berarti tidak bereaksi terlalu rendah. Itulah yang kami coba lakukan.”

Tiga dari 10 anggota komite memberikan suara menentang keputusan penurunan suku bunga seperempat poin, menyoroti perpecahan yang tumbuh di antara para pembuat kebijakan moneter. Seperti pada Juli 2019, Presiden Federal Reserve Bank Boston, Eric Rosengren, dan Presiden Fed Kansas City, Esther George ‘lebih menyukai’ untuk mempertahankan kisaran target untuk suku bunga dana federal di tingkat sebelumnya.

Baca Juga:  Jelang HUT RI: Rupiah Malah Kedodoran

Sementara itu Presiden Federal Reserve St Louis, James Bullard meminta pengurangan yang lebih besar, sebesar 50 basis poin. Ketika ditanya tentang bagaimana dia memandang pendapat yang berbeda itu, Powell mengatakan pada konferensi pers bahwa ini adalah penilaian yang sulit, dan perbedaan seperti itu “tidak lain adalah sehat.”

Presiden AS Donald Trump kembali mengecam bank sentral tak lama setelah pengumuman penurunan suku bunga, mengatakan dalam cuitannya, “Jay (Jerome) Powell dan Federal Reserve Gagal Lagi. Tidak ada nyali, tidak masuk akal, tidak ada visi! Seorang komunikator yang mengerikan!”

Menanggapi pertanyaan mengenai komentar Trump, Powell menegaskan kembali independensi bank sentral. “Saya meyakinkan anda bahwa kolega saya dan saya akan terus melakukan kebijakan moneter tanpa mempertimbangkan pertimbangan politik. Kami akan menggunakan penilaian terbaik kami berdasarkan fakta, bukti, dan analisis obyektif dalam mengejar tujuan kami,” katanya.(*/Dry/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here