Demo Anarkis di Papua dan Perang Dagang Lemahkan Posisi Rupiah

Menengok Lima Kebijakan Ekonomi BJ Habibie
Ilustrasi - Petugas kasir menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing. Foto: Antara

Oleh: Andryanto S

Indonesiainside.id, JakartaDemonstrasi yang kembali anarkis di Wamena, Papua, serta terhentinya perundingan perang dagang Amerika Serikat dan China menjadi dua faktor fundamental yang melemahkan posisi rupiah. Pada Senin (23/9) siang, kurs rupiah melemah 25 poin atau 0,18 persen menjadi Rp 14.080 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 14.055 per dolar AS.

Demonstrasi yang berlangsung di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin, kembali berlangsung ricuh. Bahkan, Kapolres Jayawijaya AKBP Toni Ananda mengatakan, situasi keamanan saat ini belum terkendali. “Sabar Mbak masih chaos,” ujar Toni sambil mematikan saluran telekomunikasinya, dilansir Antara.

Dari data yang dihimpun terungkap sejumlah bangunan dibakar dan dirusak para pendemo hingga menyebabkan otoritas Bandara Wamena menutup operasional bandara sejak pukul 10.30 WIT.

Di sisi lain, sentimen perang dagang terkait batalnya kunjungan delegasi China ke Washington untuk negosiasi juga ikut melemahkan posisi rupiah. “Delegasi Tiongkok minggu kemarin gagal berangkat ke Washington untuk melakukan pertemuan tahap awal. Kegagalan tersebut diakibatkan keputusan Donald Trump yang menolak perjanjian perdagangan secara parsial dengan Tiongkok,” kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Trump disebut menginginkan kesepakatan perdagangan yang sempurna, bukan hanya kesepakatan bahwa China akan membeli hasil pertanian AS. Ibrahim memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp 14.030 per dolar AS hingga Rp 14.090 per dolar AS. (*/Dry/Ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here