Kemenperin Nilai Pembatasan Merek Bisa Perberat Industri Tembakau

Ilustrasi Rokok. Foto: Antara

Oleh: Suandri Ansah

Indonesiainside.id, Jakarta – Tren pembatasan merek atau brand restriction serta kemasan polos plain packaging telah terjadi di sejumlah negara. Kebijakan tersebut juga mulai diterapkan di Indonesia.

Pembatasan merek kemasan polos di Indonesia dilakukan melalui berbagai cara. Mulai gambar kemasan, distribusi titik penjualan, serta pembatasan promosi dan iklan produk tertentu, seperti rokok dan susu formula.

Sedianya, industri rokok menjadi salah satu yang lebih dulu terdampak melalui revisi Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012. Beleid ini akan mewajibkan produsen mencantumkan peringatan kesehatan bergambar seram sebesar 90% dari total tampilan kemasan.

Kasubdit Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Mogadishu Djati Ertanto menilai, sejak peraturan itu diterapkan, produksi rokok telah mengalami penyusutan. Dari 348 miliar batang pada 2015 menjadi 332 miliar batang pada 2018.

“Menyusut sekitar Rp10 miliar, ya. Artinya dari sisi konsumsi tembakau secara nasional ya turun,” ujar Djati di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (9/10).

Djati menambahkan, industri rokok akan semakin ‘tertekan’ dengan adanya rencana kenaikan cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) rokok di tahun 2020. Menurutnya, semua rencana pengaturan ini akan berdampak pada hasil industri nasional

“Nah ini yang kami akan mitigasi terkait dampak lanjutannya. Jangan sampai polcy miss-nya (ketidaksesuaian regulasi) sangat membebani berkali-kali,” imbuhnya. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here