Pengamat: Alasan Efisiensi Minyak Tanah ke LPG Hanya Khayalan

Ilustasi Antrian LPG. Foto: Istimewa

Oleh: Ahmad ZR

Indonesiainside.id, Jakarta – Pengamat ekonomi, Salamuddin Daeng mengingatkan bahwa pemerintah pernah menyatakan peralihan minyak tanah ke bahan bakar LPG akan menghemat ekonomi Indonesia. Alasannya, konversi minyak tanah ke LPG akan menghasilkan banyak penghematan, di antaranya penghematan subsidi dalam APBN, penghematan impor minyak mentah, penghematan minyak tanah sendiri, dan efesiensi dalam penggunaan energi nasional.

“Tapi faktanya semua cuma khayalan,” kata Salamuddin di Jakarta, Rabu (9/10).

Ia menilai, pengalihan ini sama sekali tidak membantu ekonomi nasional. Faktanya, subsidi LPG justru meningkat fantastis, impor BBM dan LPG juga meningkat pesat, ekonomi semakin jauh dari efisien, dan kabarnya produksi minyak tanah malah melimpah.

“Bahaya di depan mata saat ini adalah subsidi LPG telah menjadi juara dalam hal subsidi energi nasional, berada di atas nilai subsidi solar, subsidi listrik dan subsidi minyak tanah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, nilai subsidi LPG mencapai Rp69,6 triliun lebih pada tahun 2019 ini. Angka ini meningkat dua kali lipat dibandingkan 2012 lalu.

“Impor LPG juga sangat besar. Setiap tahun nilainya mencapai Rp40 triliun lebih. Impor LPG mencakup 65-75 persen kebutuhan LPG nasional,” katanya.

Salamuddin menyatakan negara menderita defisit transaksi berjalan yang sangat besar, Pertamina menderita peradangan keuangan yang juga besar akibat impor ini. Lebih membahayakan lagi, Indonesia yang sebelumnya tergantung pada impor minyak mentah, tergantung pada impor solar, tergantung pada impor premium, kini ditambah lagi tergantung pada impor LPG.

“Lalu yang untung siapa? Ya para pelaku usaha impor LPG, para pemenang tender impor LPG, dan tentu saja negara pengekspor LPG ke Indonesia menerima bayaran atas pasar bahan bakar LPG indonesia,” katanya.

Kata dia, bangsa Indonesia semakin tidak berdaya karena pengelola negara menyodorkan barang impor, yakni LPG yang adiktif sehingga mengakibatkan masyarakat menderita ketergantungan .Jika tetap memaksakan diri bergerak maju, maka sama saja masuk jurang defisit.

“Tampaknya sektor energi nasional harus melakukan tarian poco-poco, dengan bergerak mundur dan mundur dan mundur lagi, yakni kembali ke minyak tanah sebagai bahan bakar pengganti LPG,” tuturnya.

Ia menjelaskan, ada jalan lain yakni mengganti LPG dangan LNG (gas alam). Mengingat Indonesia adalah negara eksportir LNG terbesar no tiga di dunia.

Namun, untuk memanfaatkan LNG butuh infrastruktur yang bagus di dalam negeri. “Mengapa selama ini infrastruktur LNG ini diabaikan? Siapa yang bermain?,” katanya. (PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here