Indef: Suku Bunga Perbankan Masih Tinggi Hambat Investasi

tauhid ahmad
Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad. Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,25% per September kemarin. Namun dampak penurunan ini belum efektif dampaknya sampai Desember nanti.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan, penurunan ini belum diikuti penyesuaian suku bunga perbankan. Kondisi ini menyebabkan investor enggan melirik sektor riil.

“Menurut saya harus dipercepat dari sisi perbankan, terutama bank besar milik pemerintah menurunkan suku bunga, sehingga ada insentif untuk investasi pengembangan modal,” ujar Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad kepada Indonesiainside.id.

Tauhid menambahkan, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan juga masih tinggi dibanding negara lain. Sehingga menahan laju kredit dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Keuntungan perbankan melalui NIM itu terlalu tinggi, ada yang sampai 4-5 persen. NIM tinggi otomatis suku bunga kredit juga tinggi,” ujar dia.

Menurut Tauhid, tingginya NIM di perbankan nasional akan berdampak kepada dunia usaha yang masih mengandalkan bank sebagai salah satu sumber pendanaan. Dia berharap pemerintah aktif berkoordinasi dengan perbankan.

“Terutama BUMN untuk dapat melakukan penurunan suku bunga kredit setelah Bank Indonesia mengumumkan penurunan suku bunga (BI 7Day Reverse Repo Rate),” katanya.

Survei Perbankan BI mengindikasikan pertumbuhan triwulanan kredit baru melambat pada triwulan III-2019, tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) permintaan kredit baru pada triwulan III-2019 sebesar 68,3 persen, lebih rendah dibandingkan 78,3 persen pada triwulan sebelumnya. Hal ini mesti menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi kalangan perbankan nasional.

“Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan tersebut terutama bersumber dari kredit investasi dan kredit konsumsi,” kata Departemen Komunikasi BI dalam info terbarunya di Jakarta, Rabu (16/10).

Sementara itu, kata BI, pada triwulan IV-2019 pertumbuhan kredit baru diprakirakan meningkat, didorong oleh optimisme terhadap kondisi moneter dan ekonomi yang menguat dan juga risiko penyaluran kredit yang relatif terjaga. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here