BKPM Ungkap Investasi Macet Rp700 Triliun, Ini Penyebabnya

Bahlil Lahadalia. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta — Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan, di antara negara-negara ASEAN, Vietnam merupakan negara paling diuntungkan dari konflik perang dagang Amerika dengan China. Negara itu memiliki kepastian usaha lebih baik ketimbang Indonesia.

“Harus kita akui bahwa regulasi dalam konteks kepastian usaha di Vietnam lebih baik ketimbang kita. Kedua memang regulasi kita juga tumpang tindih antara kementerian lembaga, bupati, walikota dan gubernur,” ujarnya dalam Rakornas di Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini.

Dalam keterangan tertulisnya, Bahlil menjelaskan bahwa saat ini sebanyak Rp700 triliun investasi siap antri masuk ke Indonesia. Investasi ini berasal dari 24 negara dalam bentuk investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI).

Hanya saja, kata dia,  investasi itu terkendala berbagai masalah domestik. FDI ini sudah di depan pintu. Tapi tidak bisa masuk dan berinvestasi ke dalam negeri karena masalah-masalah sepele dan klasik, berputar-putar, izin-izin, rekomendasi, regulasi perpajakan, dan ketersediaan lahan.

“Kalau ditanya perusahaanya apa saja saya belum bsia menjelaskan, sektornya macam-macam, ada di petro kimia, powerplant, manufaktu, perkebunan, ada semuanya,” ujar Bahlil saat dikonfirmasi Indonesiainside.id.

Karena itu, dia mengaku akan membentuk satgas khusus, Satgas Percepatan Investasi BKPM untuk menangani maslah ini. Sampai enam bulan ke dapan, satgas ini bertugas menyisir regulasi, mengawal investor sehingga inevstasi macet itu bisa tereksekusi.

“Tapi dari Rp700 triliun itu yang sekarang sudah bisa terealisasi kurang lebih Rp38 triliun,” imbuh dia. Dia menejelaksan, yang sudah terealisasi ini bergerak pada sektor pembangkit (power platn) dari sebuah perusahaan kerjasama antara Malaysia dengan Amerika.

“Saya tidak bisa menjelaskan ngantrinya dari tahun berapa , yang jelas saya masuk (dilantik) sudah existing,” kata Bahlil. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here