Enam Sebab Keuangan BPJS Kesehatan Tertekan

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad (kanan). Foto: Suandri Ansah/indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta — Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Tauhid Ahmad memaparkan penyeba utama keuangan BPJS Kesehatan tertekan. Seiring meningkatnya peserta dari 133,4 juta tahun 2014 menjadi 208 juta pada 2018.

“Peningkatan jumlah peserta tersebut justru defisitnya semakin besar. Dulu 2014 cuma Rp3,3 triliun tapi 2018 audit BPK Rp34,7 triliun, naik 951,59 persen,” katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, Ahad (17/11).

Adapun penyebab keuangan BPJS Kesehatan tertekan selain meningkatnya kepersertaan yakni, pertama, ada fraud dari manajeman klaim fasilitas kesehatan, bahwa memang tidak bisa dikontrol dimanfaatkan oleh banyak fasilitas kesehatan.

Kedua, sistem rujukan tidak berjalan optimal. Mislanya, kata Tauhid, pasien yang sudah selesai perawatan di tingkat faskes kecamatan naik ke kelas lebih tinggi, otomatis biaya meningkat.

Ketiga utang pemda kepada BPJS. Banyak pemda yang menjanjikan subsidi tapi pada kenyataanya tak berjalan baik karena kondisi keuangan daerah tak mumpuni.

Keempat, pembelian obat-obatan yang tidak terkontrol dengan baik. Bisa karena fraud atau standar kesehatan yang diberikan tinggi sekali, sehingga banyak obat yang tidak perlu dibeli atau dijual kembali karena tidak digunakan.

Kelima dana operasional membengkak. BPJS Kesehatan menganggarkan dana Rp3, 6 triliun. Masalahnya, apakah dana operasional ini fiks atau tidak, ini dinilai menyebabkan struktur biaya BPJS jadi besar.

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here