Masalah Utama BPJS Bukan Defisit, Tapi Keberpihakan

Praktisi Kesehatan, Kristo Sinambela (tengah). Foto: Suandri Ansah/indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta — Praktisi Kesehatan, Kristo Sinambela menilai masalah utama program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bukan defisit BPJS Kesehatan. Lebih penting dari itu adalah keberpihakan.

Kristo menyebutnya dengan masalah ideologi yang kemudian berdampak pada kualitas pengelolaan BPJS Kesehatan. Akhirnya membuat kondisi BPJS Kesehatan terus berada dalam tekanan, dalam hal ini masalah keuangan.

“Kenapa masalahnya ideologi? Pasca-BPJS ada puluhan ribu usaha mandiri bangkrut, mantri, bidan dokter umum, klinik kecil, habis,” kata Kristo dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, Ahad (17/11).

Dia menjelaskan, semestinya tata kelola BPJS Kesehatan beririsan dengan program Nawacita Presiden Joko Widodo. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan ideologi marhaenisme yang pernah dicetuskan Bung Karno.

“Artinya negara harus berpihak pada rakyat kecil. Dan secara idealisme itu ekonomi kerakyatan harus didahulukan. Faktanya puluhan ribu tumbang,” papar Kristo.

Dia juga menyebut bahwa BPJS Kesehatan dikelola menurut pandangan kapitalisme yang menguntungkan rumah sakit besar. Sementara klinik kecil, dokter umum kecil diabaikan.

“Kapitalis (dengan menggelontorkan dana hanya pada) rumah sakit milik negara dan swasta. Negara sanggup memberikan mereka operasi katarak Rp8 juta, lucunya kenapa enggak mereka berikan pada kami,” kata dia. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here