UNEP Sebut 75% Karhutla Terjadi di Lahan Terlantar

Seorang petugas memadamkan kebakaran lahan di Jalan Jenderal Sudirman km 10 Sampit pada Jumat (22/9) malam. Foto: Antara

Indonesiainside, Jakarta – Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Environment Programme (UNEP) mengeluarkan data terbaru yang menyatakan luasan hutan dan lahan terbakar pada tujuh provinsi di Indonesia selama Januari-Oktober 2019 mencapai 1,64 juta hektar. Dari luasan tersebut sekitar 76% karhutla terjadi di lahan terlantar.

Data itu mengungkapkan hanya 3% kebakaran terjadi di lahan pertanian kelapa sawit. Begitu juga kebakaran di kawasan hutan mencapai 3% dari total keseluruhan area. Diperkirakan, pada 1 Januari hingga 31 Oktober 2019 sekitar 60.000 hektare hutan terkena dampak kebakaran dan sebagian berada di lahan gambut.

Menanggapi laporan itu, Guru Besar Kebijakan Kehutanan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Sudarsono Soedomo mengatakan, konsesi tidak produktif seperti kawasan terlantar yang tidak dibebani izin, punya potensi karhutla tinggi.

“Hal ini, berbeda dengan kawasan yang dibebani izin seperti perkebunan sawit.”Kemungkinan suatu kawasan produktif seperti perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri terbakar dan punya banyak hotspot kecil,” kata Sudarsono di Jakarta, Minggu (8/12).

Menurutnya, untuk memperkecil potensi karhutla, para pemegang konsesi termasuk pemerintah wajib dibebani tanggung jawab termasuk pemberlakukan tanggung jawab mutlak jika konsesinya terbakar. “Cara pencegahan ini lebih efektif dibandingkan penanggulangan jika sudah terjadi kebakaran,” ujar dia.

Pengamat Lingkungan dan Kehutanan Petrus Gunarso. Petrus menambahkan bahwa tanggung jawab itu akan memaksa setiap pemegang konsesi aktif menjaga konsesi.

Musdalifah Mahmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa karhutla di Indonesia tidak terkait dengan pembukaan lahan sawit.”Naifnya rasanya jika untuk membeli bibit sawit saja butuh dana Rp 25 juta hingga Rp 50 juta dan belum termasuk biaya lain seperti pupuk, jika kemudian hanya untuk dibakar,”kata Musdalifah. (*/Dry)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here