Susi: Astagfirullah, Karunia Tuhan, Tidak Boleh Kufur Nikmat

susi
Susi Pudjiastuti. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta — Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiatsuti terus menyuarakan penolakan ekspor benih bibit lobster. Seperti yang baru-baru ini dicuitkan di akun Twitter-nya.

Susi memandang, lobster yang memiliki nilai ekonomi tinggi tidak boleh punah. Meski menggiurkan, jumlah lobster harus terus dipertahankan demi kelangsungan hidup lobster dan keberlanjutan ekonominya.

“Lobster yg bernilai ekonomi tinggi tidak boleh punah, hanya karena ketamakan kita untuk menjual bibitnya; dengan harga seperseratusnyapun tidak. Astagfirulah .. karunia Tuhan tidak boleh kita kufur akan nikmat dr Nya,” cuit Susi di akun twitternya, dikutip Selasa (10/12).

Dia juga menyertakan sebuah video berdurasi sekitar satu menit. Video itu menampilkan satu menu makanan berisi dua lobster yang akan jadi santapannya di Pangandaran, Jawa Barat.

“Malam ini saya makan di Pangandaran dengan lobster, satu ekor lobster ini beratnya kurang lebih 400 sampai 500 gram,” kata Susi dalam video itu.

Dia mengatakan, lobster seperti ini memiliki harga jual Rp600 ribu sampai Rp800 ribu per satu kilogram. Berarti, lanjutnya, satu ekor lobster ini Rp400 ribu.

Namun, akibat kebijakan pemerintah yang membuka keran ekspor bibit lobster. Bibitnya diambil dan dijual hanya dengan harga Rp30 ribu.

“Berapa rugi kita, apalgi kalau lobsternya mutiara jenisnya. Dimana satu kilo lobster mutiara bisa mencapai 4 sampai 5 juta. Satu ekor 400 gram itu sudah berapa harganya. Satu juta rupiah,” tutur Susi.

“Kita jual ke Vietnam dengan harga 100 ribu atau 130 ribu. Nelayan tidak boleh bodoh dan kita akan dirugikan kalau itu dibiarkan,” imbuhnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo berencana membuka ekspor benih lobster. Padahal sebelumnya era Menteri Susi Pudjiastuti ekspor benih lobster dilarang.

“Kita biarkan di alam hanya 1% yang hidup. Kita setop tangkap, ada nelayan disitu dan apa gantinya buat mereka kalau kita larang menangkap benih lobster,” ujar Edhy di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (4/12).

“Kita belum siap. Kenapa kita tidak larang melalui aturan yang kita buat. Yang jelas buat aturan yang menyenangkan nelayan,” tambahnya.

Dia mengatakan, saat mengirim tim ke negara Vietnam dan melakukan pengecekan dari total kebutuhan benih lobster mereka 80% berasal dari Indonesia.

“Celakanya 80% datang dari Indonesia, tidak langsung dari kita tapi lewat Singapura. Padahal dari rute perjalanan nelayan beli Rp 3.000 atau naik Rp 5.000. Setelah di jual di Vietnam Rp 139.000 per benih. Biasanya harga sekitar Rp 50.000-70.000 per benih,” terang”nya. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here