Pengamat: Kepercayaan Nasabah Akan Menurun Akibat Kasus Gagal Bayar Jiwasraya

Ilustrasi Jiwasraya. Foto: ANTARA

Indonesiainside.id, Jakarta – Awal tahun sepertinya merupakan jalan sulit bagi industri asuransi. Hal ini karena semakin besarnya skandal Jiwasraya dan muncul dugaan korupsi Asuransi Asabri yang ditafsir kerugian negaranya bakal lebih besar dari skandal Jiwasraya. Kasus ini disinyalir akan menurunkan tingkat kepercayaan nasabah terhadap asuransi.

Sebelumnya, Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK), Agung Firman Sampurna menyebutkan, bahwa pihaknya sebagai badan auditor negara, sudah melakukan dua kali pemeriksaan yang bersifat pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT) dan audit investigasi dalam kurun 2010 hingga 2019. Dari hal itu, BPK berani mengatakan bahwa skandal Jiwasraya gigantic (masif) dan menimbulkan risiko sistemik.

“Adanya resiko sistemik tersebut akan terjadi pada kepercayaan masyarakat sebagai nasabah asuransi. Kepercayaan nasabah akan menurun akibat kasus gagal bayar Jiwasraya,” ujar Pengamat Asuransi Muda dan Pengajar Sekolah Tinggi Asuransi Trisakti, Azuarini Diah, melalui pesan WhatsApp, Jakarta, Sabtu (11/1).

Menurut Azuar, Skandal Jiwasraya dan Kasus dugaan korupsi Asabri bisa sebabkan krisis kepercayaan di masyarakat. Krisis itu bisa terjadi karena masyarakat trauma akibat melihat nasabah dari asuransi bermasalah yang khawatir polis asuransi tidak dibayarkan

“Padahal tidak semua asuransi performanya seburuk Jiwasraya. Masih banyak potensi yang bisa digarap di sektor asuransi,” ujar Azuar.

Azuar juga menambahkan untuk menyeleasaikan permasalahan asuransi yang menjadi sorotan akhir-akhir ini ialah komitmen penuh dari seluruh pemangku kebijakan. Hal ini terkait untuk tetap memenuhi ketentuan yang berlaku di Polis para nasabah.

Jiwasraya juga harus melakukan komunikasi dengan para nasabah yang menjadi korban, bahwa perusahaan tetap berkomitmen terhadap meraka. Pihak terkait harus menyelesaikan kasus yang ada dengan solusi terbaik, bagi perusahaan atau nasabah terkait, serta transparansi dalam penyelesaian masalah tersebut.

Sementara pemerintah sebagai pemegang kepentingan harus membuat masyarakat berpikir positif kepada industri asuransi. Hal ini karena masih ada potensi sektor asuransi yang bisa dimanfaatkan semua pihak.(PS)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here