Impor Garam 2,9 Juta Ton, Petani Makin Sengsara

impor garam
Anggota Komisi VI DPR RI saat meninjau stok garam di gudang penyimpanan garam di Pamekasan, Jawa Timur. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Petambak garam meminta pemerintah meninjau kembali impor garam 2,9 juta ton pada tahun ini. Adapun Kementerian Koordinator bidang Perekonomian menetapkan kuota impor garam pada 2020 sebanyak 2,9 juta ton.

“Kami minta ada pengkajian ulang untuk impor garam. Karena tahun 2019 ,produksi garam petani, masih menumpuk bayak dan belum terserap . Kalau garam impor masuk , bagimana nasib petani, ” ungkap Petani Garam Indramayu Durokhman kepada Indonesiainside.id, Senin (13/1).

Dia mengungkapkan stok garam petani masih menumpuk dan saat ini harga masih rendah. Hingga ini belum ada kenaikan harga.

“Jika pemerintah membuka keran impor garam maka petani garam akan semakin susah. Kasian para petani karena garamnya tidak bakal terserap apabila garam impor masuk,” ujar dia kepada Indonesiainside.id, Senin (13/1).

Dia menyebutkan garam dalam negeri akan kalah bersaing dengan garam impor. “Harga garam di Indramayu sekarang sekitar Rp300 per kilogram (kg),” kata dia.

Dia memperkirakan stok garam di Indramayu masih melimpah mencapai 130.000 ton yang belum terserap.

Sementara produksi garam sangat tergantung cuaca. “Kalau musim panasnya panjang produsi banyak seperti tahun 2019 sekitar 300000 ton di Indramayu,” jelas Durokhman.

Dia mengatakan, saat ini petani mengalami kerugian sangat bsar dengan harga jual Rp300 per kg. “Petani baru bisa untung minimal Rp700 per kg, ” jelas dia

Meskipun diakuinya, harga garam pernah menyentuh level tertinggi pada tahun 2018 tembus Rp1.500 per kg. “Jika garam impor sudah masuk, harganya bisa dibawah Rp300 per kg,” tandasnya.

Dia menjelaskan, pada tahun itu impor garam disetop oleh pemerintah. Dampaknya seluruh importir menyerap garam milik petani.

“Jadi garam petani wajib diserap oleh para importir. Sehingga importir berebut membeli garam petani. Dalam aturan setelah meyerap garam petani baru dibolehkan impor,” terangnya.

“Namun tahun 2019 pemerintah melakukan pembiaran impor garam dan imbasnya tidak lagi importir menyerap garam petani, ” tambahnya.

Menurutnya, pada tahun 2019 mulai kacau, harga garam langsung turun dratis. Hal ini disebabkan mulai dibuka impor garam yang cuup besar.

Untuk itu dia memimta pemerintah mengkaji kembali kuota impor garam. “Boleh pemerintah membuka impor namun dikaji dahulu, stok garam di petani masih menumpuk, ” katanya.

Lebih baik serap garam petani terlebih dahulu ketimbang langsung impor garam. “Kalau garam kurang, ditutup melalui impor,” katanya.

Dia mengatakan, garam lokal tidak bisa digunakan oleh industri itu merupakan permainan importir saja.

“Buktinya tahun 2018 importir banyak membeli garam petani. Garam petani kualitasnya sudah bagus dan bisa dipakai untuk industri,” pungkas dia. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here