Penjualan Benih Pertani Turun Gara-Gara Aturan Njlimet Kementan

Tanaman jagung hibrida. Foto: pioneer

Indonesiainside.id, Jakarta – Penjualan benih padi inbrida dan jagung hibrida PT Pertani Persero terus mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan adanya aturan njlimet di Kementerian Pertanian (Kementan).

Berdasarkan data, penjualan benih padi inbrida perusahaan pelat merah tersebut pada tahun 2017 mencapai 44.203 ton, namun 2019 turun menjadi 27.531 ton. Sedangkan jagung hibrida tahun 2019 penjualan hanya 614 ton, lebih rendah ketimbang tahun 2018 mencapai 3.054 ton.

Direktur Utama Pertani Persero Febriyanto mengungkapkan, sejak program subsidi benih atau public service obligation (PSO) diubah menjadi mekanisme komersial dalam bentuk sistem e-katalog penjualan benih perusahaan terus menurun.

“Sejak PSO atau penugasan diganti dengan model komersial e-katalog, penjualan benih terus menurun,” ujar dia, Sabtu (25/1).

Selain itu, adanya beberapa aturan dari Kementan tepatnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menambah beban perusahaan.

“Perusahaan terkendala dalam penjualan benih, utamanya harga produk benih yang dipasarkan lewat e-katalog seekarag terus menurun.

Untuk itu dia meminta adanya penyesuian harga benih padi inbrida di e-katalog, minimal ada kenaikan harga jual benih padi minimal 10 persen untuk mengembangkan industri perbenihan.

“Marginnya tipis, dan harga benih semakin tertekan oleh aturan itu. Sehingga agak repot dalam penjualan. Pertani menagalami baiya produksi cukup tinggi (overhead cost). Kami berharap harga produk benih bisa ditingkatkan,” ungkap Febriyanto.

Adanya pembatasan biaya distribusi benih padi maksimal Rp 600 per kg, padahal biaya angkut itu at cost sesuai dengan yang tercantum di dalam kontrak e-katalog.

“Ini menjadi tambahan biaya untuk derah yang lokasinya jauh di wilayah Indonesia tengah dan Indonesia timur. Imbasnya kita harus mensubsidi biaya distribusi tersebut,” tandas dia.

Selain itu, lisensi benih dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) lebih memberikan prioritas pemberian lisensi varietas unggul baru untuk diproduksi oleh BUMN. Ini penting agar bisa disalurkan kepada para petani

“Lisensi benih jagung hibrida oleh badan Litbang pertanian bisa dialokasikan ke perusahaan BUMN. Sehingga kita bisa mengembangkan benih jagung hibrida. Apalagi ketersediaan benih induk terbatas,” jelas dia. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here