Tumpang Tindih Jasa Laut, Pendapatan Perindo Turun Drastis

Farida Mokodompit
Dirut Perum Perindo Farida Mokodompit dalam Rakornas 2020 di Bogor, Jawa Barat. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Adanya tumpang tindih kebijakan jasa tambat laut di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menbuat pendapatan Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perindo) turun drastis. Penyelesain masalah harus segera diatasi dan jasa tambat laut dikembalikan ke Perindo.

Direktur Utama Perum Perindo Farida Mokodompit mengungkapkan, selama ini pengelolaan enam pelabuhan dengan penyediaan jasa tambat labuh dipegang oleh Perindo sesuai Peraturan Pemerintah (PP) No.9 Tahun 2013. Dalam aturan itu diegaskan perusahaan sebagai pengelola pelabuhan.

“Perusahaan ditugaskan untuk melakukan jasa tambat labuh kepada seluruh kapal perikanan, sekarang jasa ini dikelola oleh KKP yang didasari oleh Peraturan Menteri KKP No.8 tahun 2012, sehingga ada tumpang tindih dari dua peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah,” ungkap dia di Jakarta, kemarin.

Dia menyebutkan, beberapa pengelolaan pelabuhan perikanan sudah diambil alih oleh KKP diantaranya Brondong, Belawan, dan Pemangkat. Kemudian dalam waktu dekat menyusul dua pelabuhan lagi, salah satunya di Pekalongan.

Untuk itu, dia meminta agar jasa tambat labuh dapat dikelola kembali oleh Perindo. “Kami sudah melayangkan surat ke KKP dan Kementerian BUMN. Berdasarkan PP No.9 Tahun 2013 itu berhak melakukan jasa tambat laut adalah Perindo,” ujar dia.

Akibat permaslahan ini pendapatan uasaha perusahaan turun drastic. Dari awalnya tahun 2018 pendapatan mencapai Rp 1 triliun menjadi Rp 460 juta pada tahun 2019.

“Omset perusahaan pada tahun 2018 mencapai Rp 1 triliun, namun tahun 2019 jeblok hanya mencapai setengahnya Rp 460 juta,” ujar Farida.

Guna mempercepat pertumbuhan perusahaan, tahun ini akan melakukan pengembangan usaha pelabuhan perikanan di Lampulo

“Saat ini ada perubahan kebijakan dari KKP, sehinga pelabuhan milik Perindo ini tidak dipergunakan lagi. Sehingga kdepan kita akan membangun docking karena setelah disurvey disana tidak ada fasilitas docking,” kata Farida.

Selain itu, peningkatan penjualan bahan bakar di beberapa cabang yang potensinya sangat bagus, akan tetapi belum dioptimalisasi seperti di Pekalongan, Yuwana dan Tegal. “Pengelolaan pasar ikan modern di Muara Baru. Saat ini sudah beroperasi dan ke depan akan dijadikan salah satu sarana wisata,” jelas dia.

Selain ada bisnis perikanan disana, juga bertujuan untuk meningkatkan sektor wisata. “Ini tidak melangkahi koor bisnisperusahaan karena kami belerjasama dengan pihak ketiga. Tak kalah penting optimalisasi pabrik pakan ikan yang mulai produksi tahun ini,” ungkap dia. (*/Dry)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here