Pengrajin Gula Kelapa Berharap, Perpindahan Ibu Kota Negara ke Kaltim Tingkatkan Ekonominya

ilustrasi gula merah

Indonesiainside.id, Penajam – Berawal dari keterbatasan akan memunculkan inovasi. Itulah yang dijalani oleh Nursalim, pengrajin gula merah kelapa (coconut palm sugar).

Di tempat tinggalnya yang berada di bibir pantai Kelurahan Tanjung Tengah, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), telah puluhan tahun ditanam ribuan pohon kelapa. Tak ada satupun terlihat pohon aren yang biasa dijadikan gula merah.

Tak ada pohon aren bukan berarti Nursalim (38) kehabisan akal untuk mencoba mengolah air nira kelapa menjadi gula merah. Hasilnya memuaskan. Rasa gula kelapanya sangat legit dan warnanya lebih kuning ketimbang gula aren yang kerap menghitam ketika titik didih panas melebihi ambang batas.

Berbekal pelatihan dari Disperindagkop Kabupaten PPU dan perusahaan migas yang ada di Penajam, Nursalim memberanikan diri membuka usaha pengolahan gula kelapa menjadi gula merah dan gula semut. Kini, setiap hari sadapan air nira kelapa dapat menghasilkan lebih kurang 10 kilogram gula.

“Air nira kelapa segar harus cepat diproses. Pengolahan gula merah dan gula semut selama lima jam. Sedikitnya 10 kg sekali proses pengolahan,” ujarnya saat dihubungi via telepon, Jumat (6/3).

Menurut Nursalim, gula merah yang dihasilkan oleh kelompok yang beranggotakan 10 orang ini sengaja dibuat bola kecil setengah lingkaran agar menarik dan berbeda dari produk gula merah lainnya yang biasanya “sepasang.” Begitupun dengan gula semut yang dihasilkan benar-benar memiliki butiran yang pas, tidak terlalu besar ataupun kecil, sehingga mudah larut di dalam air panas.

Gula semut selain digunakan sebagai topping olahan kue, juga menjadi pendamping minum kopi. Gula semut biasanya dikemas ulang oleh hotel berbintang dan cafe menjadi ukuran kecil sebesar telunjuk orang dewasa.

Untuk gula merah satu kemasannya dijual Rp12.000 dan gula semut dengan berat 200 gram dijual Rp17.000 per kemasan. Pemasarannya sudah sampai ke Balikpapan, Samarinda dan Tanah Grogot di Kabupaten Paser.

“Kami terkendala armada. Jika ada kendaraan roda empat tentu akan lebih luas lagi penjualannya,” ucap Nursalim yang juga merupakan Sekretaris Kelompok Pengrajin Gula Merah Tanjung Tengah ini.

Ia berharap dengan dijadikannya Kabupaten PPU sebagai lokasi pemindahan ibu kota negara nantinya, produknya akan dapat terserap lebih besar lagi. Apalagi, gula kelapa jelas lebih sehat daripada gula pasir yang Indonesia harus impor.

Kayanya Kabupaten Penajam Paser Utara dengan tanaman pohon kelapa, Nursalim memproyeksikan tahun ini akan dapat terbentuk satu unit usaha pengolahan gula kelapa baru di kecamatan lainnya.

“Kalau jumlah penduduk Kaltim khususnya yang bermukim di ibu kota negara bertambah, pasti permintaan akan gula merah dan produk gula semut juga akan meningkat. Semoga saja perpindahan ibu kota negara dapat mendongkrak ekonomi masyarakat termasuk usaha gula merah kami,” ujarnya berharap.(YAN)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here