Harga Minyak Anjlok Ancam Resesi Dunia

kilang
Ilustrasi harga minyak dunia anjlok. Foto: Istimewa

Indonesiainside.id, Jakarta – Pengamat perminyakan, Kurtubi, mengungkapkan anjloknya harga minyak dunia yang sangat tajam karena suplai jauh lebih besar dari permintaan. Salah satu penyebabnya keberhasilan Amerika Serikat (AS) meningkatkan produksi minyaknya melalui teknologi shale oil.

Shale oil adalah minyak yang diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya minyak. Proses yang diperlukan untuk mengubah batuan shale menjadi minyak bumi.

Dia menyebutkan, produksi meningkat dari sekitar 8,5 juta barel per hari (bph) pada tahun 2016. “Naik terus setiap tahun menjadi sekitar 13 juta bph saat ini ditahun 2020,” ujar Kurtubi kepada Indonesiainside.id, Selasa (10/3).

Selain itu, kata dia, munculnya secara tiba-tiba fenonena virus corona sejak Januari 2020 menyebabkan banyak pabrik yang tutup (sementara). Banyak penerbangan, transportasi, dan industri wisata tiba-tiba anjlok.

“Otomatis permintaan minyak dunia terseret anjlok. Sadar akan dampaknya terhadap harga minyak dunia, OPEC sebagaimana biasanya berusaha untuk mengurangi produksi minyak,” tuturnya.

Kurtubi mengatakan, OPEC juga meminta Rusia menurunkan produksi. “Tapi itu ditolak oleh Rusia. Mungkin dengan kalkusi agar shale oil-nya Amerika terpukul,” ujar dia.

Menurut dia, selama ini shale oil memperoleh manfaat dari harga minyak dunia yang relatif tinggi. “Produksi dari shale oil melonjak sekitar 8,5 juta bph dalam waktu beberapa tahun,” paparnya.

Karena, kata dia, dikawal oleh OPEC dan Rusia, sehingga harga crude oil tetap terjaga pada level yang relatif mahal. Sebelum turun dari sekitar 60 dolar AS barel menjadi sekitar 30 dolar AS/barel saat ini,” ujar Kurtubi.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here