BEI Buat Auto Rejection Jadi 7 Persen Supaya Investor Rasional

IHSG. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI), mengungkapkan kondisi pasar secara global tidak baik termasuk Indonesia. Oleh karena itu, BEI berusaha menahan langkah impulsif investor yang terus-menerus melakukan aksi jual.

“Kalau flashback kita larang short sell, auto rejection kita persempit dari 10% dan turun jadi 7%, agar investor tidak ikut jual. Sayang di harga sekarang dijual, makanya kita coba investor lebih rasional jangan ikut panik jual tanpa pertimbangkan rasionalitas,” ujar Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (13/3).

Dia juga menyebutkan, beberapa kebijakan yang dikeluarkan baru-baru ini bukan dianggap sebagai protokol krisis, melainkan respon pasar yang lumrah dilakukan. Bursa mengklaim menggunakan parameter volatility index (VIX) untuk menggambarkan volatilitas pasar dalam hitungan hari, minggu dan bulan.

Selain itu, dia mengklaim seluruh kebijakan yang dikeluarkan merupakan hasil komunikasi dengan pelaku pasar. Supaya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan sudah mengakomodasi permintaan pasar.

Sebelumnya, BEI membuat pernyataan bakal memberlakukan ketentuan batas bawah atau auto rejection asimetris, sesuai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi. Ketentuan baru itu ialah batas bawah atau auto rejection ditetapkan menjadi 7% untuk seluruh fraksi harga, dari ketentuan sebelumnya yaitu 10%.

Auto rejection ialah penolakan otomatis oleh sistem perdagangan efek, terkait penawaran tertinggi atau terendah atas saham, di pasar reguler dan pasar tunai. Sehingga, harga saham tidak naik atau turun secara signifikan sesuai ketentuan bursa.

Sistem ini diberlakukan, apabila ada penawaran atau pembelian saham yang harganya naik lebih dari 35% atau turun 7% dari harga acuan. Itu berlaku untuk fraksi harga saham antara Rp50-Rp200 per saham.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here