DPR: Impor Gula Bukan Solusi, Petani Tebu Bakal Menjerit

Sack with pure sugar on table

Indonesiainside.id, Jakarta – Anggota DPR dari Fraksi PKS, Ami Ak, menilai kebijakan impor gula pasir bukan solusi tepat. Kebijakan itu akan membuat petani tebu menjerit. Harga gula pasir di Jadebotabek belakangan ini melonjak drastis. Gula pasir yang biasanya dijual dengan harga Rp12.500 di tingkat pengecer, kini harga melambung tinggi menembus Rp19.000.

Harga tersebut jauh lebih tinggi dari harga acuan di tingkat konsumen yang ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan. Berdasarkan peraturan Kemendag No.7/2020, harga acuan penjualan gula di tingkat konsumen sebesar Rp 12.500 “Para pembeli pun mengeluhkan lonjakan harga tersebut. sebab, dengan kenaikan itu, beban biaya hidup semakin bertambah,” kata Amin Ak kepada wartawan di Jakarta, Jumat (13/3).

Tak hanya pembeli, menurut Amin para pedagang eceran juga mengeluhkan lonjakan harga tersebut. Sebab, modal meningkat tapi penghasilan stagnan. Selain itu, untuk mendapatkan gula dari distributor, para pedagang eceran juga mengaku kesulitan, lantaran stok gula pasir sudah menipis, bahkan ada yang kosong.

Dia mengatakan, kebutuhan gula kristal putih (GKP) untuk konsumsi keluarga di tanah air berkisar 3,1-3,2 juta ton per tahun. Sementara, untuk kebutuhan industri mencapai kurang lebih 3,3 juta ton per tahun. Namun produksi Gula dalam negeri per tahun hanya di kisaran 2,1-2,2 juta ton.

Hal itu menandakan, Indonesia masih kekurangan stok gula pasir. Artinya, pemerintah harus membuka kran impor yang tidak sedikit. Menurut dia, kebijakan impor akan meredam harga eceran secara sesaat dan mengatasi kelangkaan stok gula. “Namun, kebijakan ini tentu tidak disukai oleh para petani tebu dan membuat neraca perdagangan kita semakin memburuk,” tutur dia.

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here