Bank Indonesia: Krisis Akibat Covid-19 Lebih Aman dari Krismon 1998

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: ANTARA

Indonesiainside.id, Jakarta-Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan saat ini krisisnya merata di mana Indonesia dan dunia secara bersama tidak hanya menghadapi masalah di pasar keuangan dan ekonomi, tetapi juga masalah kemanusiaan. Kondisi perekonomian saat ini yang terdampak penyebaran virus corona, menurut Bank Indonesia menekankan masih lebih baik dan lebih aman daripada saat terjadi krisis moneter Asia tahun 1998 silam.

“Yang terjadi di pasar keuangan dan ekonomi saat ini karena pandemik Covid-19 yang menyebar luas di AS, Eropa, termasuk di Indonesia,” ujar Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis (26/3).

Perry mengatakan BI bersama pemerintah, OJK, dan LPS terus berkoordinasi memantau stabilisasi makro ekonomi dan sistem keuangan. Hal ini dilakukan untuk memitigasi dampak negatif dari wabah virus corona.

“Kami pastikan ini beda dengan 1998, karena industri perbankan kita dalam kondisi sehat dengan CAR (Capital Adequacy Ratio) atau rasio kecukupan modal yang tinggi sekitar 23 persen, NPL (kredit macet) rendah sekitar 2,5 persen, dan kondisi pasar keuangan yang baik,” jelas Perry.

Perry mengatakan pelemahan nilai tukar ke level Rp16 ribu saat ini tidak bisa dibandingkan dengan tahun 1998 lalu yang saat itu melemah dari Rp2.500 ke Rp16 ribu. Sementara saat ini melemah dari Rp13.800 ke Rp16 ribu atau sekitar 12 persen, jauh lebih kecil dari pada saat krisis lalu.

“Dengan langkah-langkah pelonggaran likuiditas dan pelonggaran suku bunga serta kebjakan fiskal besar di negara maju, kepanikan pasar keuangan global mereda dari sejak 2 minggu terakhir, sehingga nilai tukar cenderung membaik,” lanjut Perry.

Perry juga memastikan posisi cadangan devisa Indonesia saat ini sangat cukup, walaupun ada tekanan nilai tukar yang memengaruhi penurunan cadangan devisa. Meski begitu, posisi cadangan devisa sebagai garis pertahanan pertama mampu untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar, termasuk melalui triple intervention di pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

“Selain itu, BI juga memiliki garis pertahanan kedua melalui bilateral swap dengan beberapa bank sentral,” lanjut Perry.

Dia menjelaskan BI memiliki bilateral swap dengan Cina sebesar 30 miliar AS dolar, dengan Jepang  22,7 miliar AS dolar, dengan Singapura 10 miliar dolar Singapura, serta bilateral swap dengan Australia dan bank sentral lain. Perry mengatakan bilateral swap arrangement dengan beberapa bank sentral tersebut bisa diaktivasi apabila diperlukan.

“Kami juga berkomunikasi dengan the Fed untuk memperkuat kerja sama bilateral swap ini,” tambah dia.

Oleh karena itu, dia mengatakan semakin cepat penyebaran virus corona bisa diatasi, maka dampak terhadap pasar keuangan dan ekonomi bisa diminimalisasi.

“Saya menyerukan untuk mengikuti anjuran pemerintah pusat dan daerah dalam melakukan work from home dan social distancing sebagai langkah pencegahan Covid-19 ini, sehingga dampak pada pasar keuangan dan ekonomi serta keuangan bisa jauh lebih kecil,” lanjut dia. (CK/AA)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here