Dolar Kembali Terpeleset Atas Mata Uang Lainnya

Indonesiainside.id, New York – Mata uang dolar AS kembali jatuh terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Pasar merespon positif rancangan undang-undang stimulus dua triliun dolar AS sehingga mengurangi permintaan terhadap mata uang safe haven itu.

Saham-saham melonjak untuk hari kedua ketika para senator AS memberikan suara untuk paket legislasi bipartisan guna mengurangi dampak ekonomi yang merusak dari pandemi virus corona. Senator mendorong agar paket itu akan menjadi undang-undang dengan cepat.

Investor juga kemungkinan mengurangi eksposur terhadap dolar menjelang data klaim pengangguran Kamis(26/3), yang diperkirakan akan menunjukkan lonjakan orang Amerika yang mengajukan tunjangan karena perusahaan-perusahaan tutup di seluruh negeri dalam upaya mengekang penyebaran virus.

“Perkembangan hari ini adalah alasan yang baik untuk mengecilkan taruhan bullish pada dolar,” kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions, di Washington.

“Tetapi sentimen masih positif (untuk dolar) karena ketidakpastian tetap tinggi tentang kerusakan ekonomi dari virus.”ujarnya lagi.

Gubernur New York pada Rabu (25/3) mengatakan ada tanda-tanda tentatif bahwa pembatasan memperlambat penyebaran virus corona di negara bagiannya, bahkan ketika krisis kesehatan masyarakat semakin dalam di New Orleans yang terdampak keras dan bagian lain dari Amerika Serikat.

Klaim pengangguran pada Kamis diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar satu juta, dari 281.000 minggu sebelumnya, menurut perkiraan median dari jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom.

Indeks dolar turun 0,81 persen menjadi 101,87. Sterling melonjak 1,33 persen menjadi 1,1913 dolar. Euro menguat 0,91 persen terhadap greenback menjadi 1,0885 dolar.

Mata uang Euro juga terdongkrak setelah majelis rendah Jerman pada Rabu (25/3) menangguhkan utang negara itu, menyetujui paket stimulus besar-besaran oleh pemerintah Kanselir Angela Merkel.

Ekonomi Jerman dapat berkontraksi sebanyak 20 persen tahun ini karena dampak dari virus corona, ungkap seorang analis pasar.

Investor juga terus mencerna pengumuman Federal Reserve yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Senin (23/3/2020) bahwa mereka akan meluncurkan pelonggaran kuantitatif (QE) tanpa batas, dan bagaimana hal itu akan berdampak pada greenback.

“QE pertama kali diperkenalkan kembali pada 2008, dolar pada awalnya melemah tetapi kemudian pulih ke level yang lebih kuat. Kami percaya bahwa dinamika kemungkinan akan terungkap sekarang,” kata Win Thin, kepala strategi mata uang global di Brown Brothers Harriman di New York.(EP/ant)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here