Gubernur BI: Kondisi Saat Ini Berbeda dengan Krisis 2008 dan 1998

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kanan) dan Erwin Rijanyo, menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Jakarta,Kamis (20/2/2020). RDG Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebanyak 25 basis poin menjadi 4,75 persen. FOTO ANTARA/Puspa Perwitasari/ama.

Indonesiainside.id, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan keadaan ekonomi dan keuangan tahun ini berbeda pada masa krisis global 2008 dan krisis di Asia pada 1998. Menurutnya, pada 2008 dan 1998 industri perbankan mengalami kredit macet yang melambung.

“Sekarang pandemik virus corona cepat dan luar biasa di negara maju. Kita dengar Italia tidak hanya kasus, angka kematian lebih tinggi dari Cina. Di Inggris, Prince Charles pun positif. Di Amerika Serikat virus corona menyebar luas. Hal itu yang membuat panik pasar keuangan global, saat ini. Mereka lepas dan jual aset keuangannya, apakah saham, obligasi dan emas,” ujar Perry Warjiyo, melalui telekonferensi pers, Jakarta, Kamis (26/3).

“Mereka tidak pandang bulu, tidak melihat imbal hasil dan ratingnya. Mereka hanya mau tukar tunai dalam hal ini dolar. Ini yang terjadi di 2 mnggu dan seminggu yang lalu,” imbuh Perry.

Oleh karena itu, Perry mengatakan, kondisi keuangan dan ekonomi kali ini berbeda dengan krisis global 2008 dan krisis Asia 1998. Hal itu juga menjadi alasan kenapa

“Krisis global terjadi karena AS menjadi default dan panik di pasar Asia dan menjalar ke Eropa, kita pun kena dampak. Kami pastikan beda dengan 2008 dan 1998. Industri perbankan secara keseluruhan sehat, NPL tidak tinggi dan kondisi pasar keuangan baik,” kata Perry.

Dia juga mengatakan, kurs saat ini jangan dibandingkan dengan kurs saat krisis asia 1998. Oleh karena, kelipatan kenaikannya yang berbeda.

“Dahulu Rp16.000, tapi dari Rp2.500 per US$ ke Rp16.000, hampir 8 kali lipat. Sementara Rp16.000 sekarang itu dari Rp13.800 per US$ dari tingkat pelemahan Rp12.000, ini jauh lebih kecil dari kondisi dulu, juga dengan krisis 2008,” ujar dia. (MSH)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here