Petani Garam Mengeluh, Harga Garam Hanya Dihargai Rp300 Per Kilogram

impor garam
Pekerja tambak garam sedang mendorong gerobak berisi garam di lokasi tambak garam di Desa Nunkurus, Kabupaten Kupang, NTT. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta-Petani garam mengeluhkan harga ditingkat petambak yang masih berkutat di angka Rp300 per kilogram. Untuk itu, petani meminta pemerintah meningkatkan penyerapan garam untuk industri.

“Harga garam di tingkat petani berkisar Rp 300-350 per kg. Itu sudah terjadi dari bulan Januari,” ujar Petani Garam Indramayu Durokhman kepada Indonesiainside.id, Kamis (9/4).

Dia mengungkapkan, saat ini petani rugi besar. Biaya produksi garam Rp500 per kg, sementara harga jualnya hanya Rp300 per kg. Durokhman berharap pemerintah lebih banyak menyerap garam petani di tengah dengan kondisi merbaknya virus corona atau covid-19. “Produksi garam tahun lalu saja belum banyak terserap oleh industri,” ujar dia.

Industri lebih banyak menyerap garam impor. Imbasnya, kata dia, garam lokal banyak yang tidak terpakai. Pemerintah menargetkan tahun ini menyerap garam petani 1,5 juta ton untuk industri, menurut dia, itu terbilang sedikit sekali karena masih banyak garam menumpuk di petani. Untuk itu, dia meminta garam lokal juga bisa diserap oleh industri.

Menurut dia, pemerintah bisa mewajibkan industri membeli garam petani sebelum mendapatkan izin impor.Durokhman menambahkan, pasokan garam saat ini melimpah dan siap memenuhi kebutuhan jelang bulan puasa dan lebaran. Bahkan hingga masuk musim panen garam pada Agustus 2020.

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, pemerintah akan menyerap garam lokal mencapai 1,5 juta ton. Tujuannya, agar harga garam di tingkat petani terdongkrak.

“Iya benar harga garam jatuh. Ini harus dicari jalan keluarnya. Penyerapan garam yang tadinya 1,1 (juta ton sudah diputuskan naik menjadi 1,5 juta ton oleh pelaku usaha industri garam lokal,” ungkap dia. (SD)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here