Covid-19 Jadi Bencana Ekonomi di Afrika

Turki - Seorang warga menutupi wajahnya dengan "masker" dari botol plastik air sebagai bagian dari tindakan pencegahan virus corona (Covid-19) di Samsun, Turki (4/42020). Agensi Aandolu/Mehmet Kumcağız

Indonesiainside.id, Nairobi – Benua Hitam diperkirakan akan kehilangan 90 – 200 miliar dolar Amerika pada 2020 karena wabah virus corona (Covid-19). Hal ini berdasar hasil riset dari studi yang dirilis oleh ahli audit global McKinsey & Company.

Dengan populasi sekitar 1,2 miliar dan tersebar di 54 negara, sektor informal adalah pekerjaan yang menyerap segmen utama di benua ini, kaya akan sumber daya, tetapi manajemennya masih buruk.

Di Afrika Sub-Sahara, sektor informal berkontribusi 66 persen dari total pekerjaan, yang diklasifikasikan sebagai serangkaian kegiatan ekonomi, perusahaan dan pekerjaan, yang tidak diatur atau tidak dilindungi oleh negara.

Orang-orang berjuang dengan sedikit atau tanpa bantuan dari pemerintah, karena sebagian besar bisnis telah tutup dan memengaruhi pekerjaan dan mata pencaharian.

Jumlah kasus virus korona di Afrika telah melampaui 10.000, dengan jumlah kematian juga melebihi 500, mengutip Anadolu, JUmat(10/4).

“Covid-19 memiliki potensi tidak hanya menyebabkan ribuan kematian, tetapi untuk melepaskan kehancuran ekonomi dan sosial di benua itu,” kata Matshidiso Moeti, Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Afrika.

Meskipun pemerintah Afrika telah memperkenalkan banyak langkah untuk membendung penyebaran virus, termasuk menutup sekolah, memberlakukan pembatasan perjalanan, melarang pertemuan besar dan menutup pasar, masih belum ada kelonggaran dalam pelaporan kasus baru.

“Saya tidak bisa lagi pindah dari satu tempat ke tempat lain, ada penghentian pergerakan di Nairobi, bahkan sebelum ini, kantor ditutup karena semua orang disuruh bekerja dari rumah. Saya biasanya menghasilkan sekitar 4000 shilling Kenya (USD37) setiap hari. Sekarang saya tidak bisa menghasilkan satu shilling pun, ” kata Mercy Warui, seorang penjaja makanan di Nairobi, kepada Anadolu.

Warui, 30, ibu tunggal dengan dua anak itu mengatakan dia sekarang tinggal bersama kakaknya karena dia tidak punya uang.

”Dia adalah seorang guru tetapi bahkan dia selalu mengatakan bahwa dia akan kehabisan tabungan segera karena para guru juga tidak bekerja,” ujar dia.

”Para pemain sektor informal mendapatkan mata pencaharian dengan membawa barang-barang pertanian dari kebun ke permukiman perkotaan dan merupakan bagian dari rantai makanan,” kata Richard Munang, pakar Program Lingkungan PBB.(EP/aa)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here