Okupansi Hotel Anjlok, Pengusaha Harap Tak Ada Perang Harga

ilustrasi kamar hotel. foto: indonesiainside.id

Indonesiainside.id, Jakarta – Tak mudah mempertahankan bisnis tetap berjalan normal selama pandemi Covid-19. Apalagi jika bisnis itu bergerak di industri pariwisata dan hospitality.

General Manager Prasana Villas,Uluwatu Bali, Mia Ponidjan dalam sebuah diskusi daring bertema ‘Dampak COVID 19 Terhadap Industri Pariwisata’ memaparkan bahwa kondisi bisnis hotel di Bali sudah hancur-hancuran. Gairah pariwisata Pulau Dewata menurun mulai Februari.

“Dari segi bisnis, pada Januari 2020, Bali mengalami peningkatan wisman sebesar 16 persen dibanding tahun sebelumnya dan tingkat hunian terjadi kenaikan enam poin. Sayangnya, Covid-19 membuat pariwisata Bali menunjukkan tren menurun pada bulan-bulan berikutnya,” ujarnya.

Dia menambahkan, tingkat okupansi atau keterisian hotel pada Januari silam tercatat 59 persen, Februari turun menjadi 46 persen, Maret makin anjlok di angka 25 persen. Pada bulan ini, tingkat okupansi diperkirakan tak lebih dari 10 persen.

“Data statistik dari biro pariwisata Bali bulan ini belum keluar, tapi dari data teman-teman sesama revenue manager hotel di Bali penurunanya sekitar 5 persen okupansi di bulan April. Mei kita belum tahu, mostly di angka 3 persen,” tuturnya.

Di banding tahun lalu, bisnis okupansi hotel di triwulan pertama 2020 terlihat adanya penurunan, okupansi pada Januari 2019 tercatat 53 persen, Februari 56 persen, Maret 55 persen. Jadi tingkat okupansi turun lebih dari separuh pada Maret silam akibat pandemi.

“Sebenarnya virus sudah ditemukan pada Desember. Cuma okupansi masih bagus karena ada Tahun Baru Cina, saat tingkat eksalasi kasus belum tingi. Baru terasa dampaknya di Februari,” imbuhnya.

Dia bilang, ada tiga hal yang sekarang sangat berat ditanggung pelaku pariwista Bali. Pertama, kenyataan terpuruknya iklim industri pariwisata dan pendukungnya. Pengsuaha tak bisa mempertahankan bisnisnya.

“Ada yang sudah tutup dari Februari, terutama yang marketnya Chinese,” tuturnya.

Kemudian, banyak karyawan dirumahkan, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan kehilangan pekerjaan. Terjadi distrosi tatanan industri pariwisata. Jadi di dunia pariwisata sedang mengalami perubahan.

Dia berharap, di tengah krisis begini, masih terdapat jiwa bersaing yang sehat antar entitas bisnis. Sebab, menurtnya, saat ini persaingan mulai terasa tidak sehat.

“Ada hotel bintang lima kasih harga bintang satu, sudah harus mulai ada regulasi internal antara pelaku pariwisata sampai mana mereka bisa bersaing dalam hal pricing startegi. Karena sekarang banyak yang banting harga, kalau dilanjutkan akan jadi boomerang bagi industri pariwisata sendiri,” paparnya. (SD)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here