Pemerintah Dorong Ekspor Arwana di Tengah Pandemi

Pecinta dan budidaya Arwana. Foto: Antara

Indonesiainside.id, Jakarta – Pemerintah melalui Kemenko Kemaritiman dan Investasi mendorong peningkatan ekspor arwana di tengah pandemi Covid-19 sebagai upaya mendorong peningkatan devisa.

Dalam rapat koordinasi dengan para pemangku kepentingan termasuk pengusaha budidaya arwana serta perusahaan logistik, Kemenko Maritim dan Investasi menyatakan akan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi guna mendorong ekspor arwana. “Kalau ada hal atau regulasi yang dinilai belum pas mari kita bahas bersama. Selama itu untuk kepentingan nasional kita akan berbuat sesuatu,” kata Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi Safri Burhanuddin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (21/5).

Ketua Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI) Sugiharto, dalam rakor yang digelar Rabu (20/5) memaparkan masalah yang tengah dihadapi dunia ikan hias saat pandemi Covid-19. Menurutnya, ada lima dampak dan permasalahan yang muncul akibat pandemi.

Pertama, membuat pasar dalam negeri yang terganggu. Selanjutnya pasar luar negeri kini tergantung transportasi, tarif kargo pesawat sangat tinggi karena transportasi darat melalui kereta dihentikan, dan terdapat hambatan mengenai kebijakan perizinan ekspor.

“Khusus arwana dengan adanya kewenangan beralih dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke BKPM sejak Februari sampai saat ini masih mengalami keterlambatan hingga 40 izin perusahaan arwana tertunda sehingga menghambat ekspor,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Sugiharto meminta agar Rencana Aksi Nasional Ikan Hias yang digagas oleh Kemenko Maritim dan Investasi sejak 2017 bisa segera disahkan dan diterima menjadi program kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan. Adanya dukungan dari KKP terhadap pembudidaya ikan hias yang memiliki potensi budi daya akan mendukung mereka untuk merebut pasar dunia melalui penyelenggaraan pameran ikan hias skala internasional.

Dia juga meminta dukungan pemerintah untuk mengambil langkah pendekatan ke Pemerintah Cina yang berencana melarang importir arwana dari Indonesia, penambahan penerbangan pagi dari Pontianak ke Jakarta, dan percepatan penanganan perizinan. Arief Hardjadinata selaku pelaku usaha yang bergerak di bidang ikan arwana juga mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapinya terkait ekspor ikan arwana.

Menurutnya, proses ekspor arwana yang selama ini dialami memang begitu rumit. Dari mulai proses CITES sampai proses pengiriman dengan maskapai penerbangan sangat berbelit-belit.

“Ditambah terbatasnya sumber daya manusia dan fasilitas di daerah Kalimantan Selatan untuk memperlancar proses ekspor ikan hias, contohnya saja Form E, dan Bea Cukai yang tidak ada di bandara, adanya di pelabuhan laut,” kata Arief.

Tidak hanya itu, pada masa pandemi Covid-19 ini pun tidak ada penerbangan pertama langsung dari Banjarmasin ke Cina. “Jadi ini betul-betul menambah kesulitan bagi kami, barang saya itu harus transit di Jakarta dan itu sangat berisiko karena ikan hias ini hidup berdasarkan oksigen yang ada di dalam kantong. Kalau ikan mati kami rugi,” ungkapnya.

Menanggapi masalah tersebut Vice President Cargo Commercial PT Garuda Indonesia Joseph Tendean mengaku akan menindaklanjuti hal-hal tersebut. Joseph mengatakan pihaknya akan terus mendukung ekspor komoditas arwana. Dengan jaringan yang luas, harga yang kompetitif, prioritas keberangkatan, dan memberikan kelonggaran dalam batas penerimaan barang (empat jam sebelum berangkat). (ASF/ANT)

DMCA.com Protection Status

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here