Tangani Covid-19, Lembaga Zakat Disarankan Tagih Donatur Ultra Kaya

Warga menunaikan pembayaran zakat fitrah di Masjid Nurul Huda, Kebagusan, Jakarta, Minggu (17/5/2020). Antara Foto/Aditya Pradana Putra

Indonesiainside.id, Jakarta – Institute For Demographic and Poverty Studies (Ideas) mendorong peningkatan peran Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) dengan mengoptimalkan diversifikasi penghimpunan dana. Ideas mencatat sebagian besar OPZ mengalami penurunan penghimpunan dana cukup signifikan, dalam rentang 20 hingga 50 persen.

Penurunan dipicu jatuhnya basis utama donatur tradisional yang terkonsentrasi pada zakat penghasilan, yang di sisi lain tidak mampu ditutup oleh kenaikan basis donatur baru yang terkonsentrasi pada sedekah terikat atau dana kemanusiaan.

“Kemampuan OPZ yang kuat dalam inovasi program, jaringan kerja yang luas, identifikasi penerima yang tepat sasaran dan kecepatan respon yang tinggi, menjadi daya tawar OPZ terhadap perusahaan dan lembaga donor,” kata Ahsin Aligori, peneliti Ideas, Kamis (22/5).

Ahsin menyarankan OPZ melakukan komunikasi khusus ke donatur individual ultra kaya yang perilaku donasinya masih cenderung berorientasi jangka pendek, desentralistis dan interpersonal. Sehingga lebih menyukai pemberian donasi secara langsung ke kelompok miskin, bahkan dilakukan secara demonstratif ke publik.

“Kedua, Ideas mendorong dilakukannya kemitraan dengan pemerintah dalam pelaksanaan program jaring pengaman sosial, terutama dengan menjadikan OPZ sebagai mitra pelaksana program Bansos dan Distribusi Sembako, baik untuk 1,9 juta keluarga di Jabodetabek maupun untuk 9 juta keluarga di Non Jabodetabek,” tuturnya.

Dia menambahkan, kekuatan OPZ dalam identifikasi sasaran dan kecepatan respon dapat menjadi solusi untuk menutup carut marut distribusi bantuan sosial. Disaat yang sama, dibutuhkan upaya besar untuk menyerap tenaga kerja kerah biru yang kini banyak menganggur atau setengah menganggur.

“Dibandingkan program Kartu Prakerja yang menelan anggaran hingga Rp20 triliun, program padat karya atau cash for work yang banyak dilakukan OPZ dapat menjadi solusi, memberdayakan pengangguran dengan memberi mereka pekerjaan, sekaligus membangun kapasitas lokal dan menyediakan peluang-peluang ekonomi produktif,” ungkapnya.

Ketiga, Ideas mendorong kelompok masyarakat terkaya untuk berpartisipasi, berbagi dan berdonasi secara lebih masif melalui lembaga filantropi, terutama melalui OPZ. Insentif moral dan spiritual perlu dikedepankan mengingat kepemilikan kekayaan kelompok teratas ini yang sangat signifikan.

Per Maret 2020, sekitar 100.000 pemilik rekening menguasai hingga Rp3.000 triliun dana simpanan di perbankan nasional. Jika 100.000 pemilik rekening ini bersedia berdonasi 0,3 persen saja, akan terhimpun dana setidaknya Rp10 triliun, setara dengan penghimpunan dana seluruh OPZ saat ini dalam setahun.

Keempat, Ideas mendorong pemerintah untuk secara intensif mengadopsi pendekatan pembiayaan defisit anggaran untuk penanggulangan Covid-19 yang lebih berbasis instrumen filantropi, bukan instrumen komersial murni.  Pemerintah dapat menarik potensi investor untuk instrument pembiayaan defisit berbasis filantropi .

“Instrumen berbasis filantropi yang perlu diintensifkan dalam pembiayaan defisit anggaran ini antara lain adalah socially responsible investment (SRI) bond dan sukuk wakaf (cash-waqf linked sukuk),” kata Ahsin. (ASF)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here